top
logo

Kharisma News

Login Form

Pemimpin Gereja yang Mengorientasikan Hidup pada Pemenuhan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus

Oleh: Pdm. Joko Prihanto, MACE., M.Th.*)

Sejak dirancang dan dilahirkan, gereja memang ada untuk sebuah misi. Ia memainkan peran sentral sebagai ‘agen tunggal’ dari Kerajaan Allah yang ditegakkan. Peran itu sendiri sedianya akan dibebankan kepada Israel, bangsa pilihan-Nya. Tetapi karena Israel akhirnya menolak Sang Mesias, Raja dalam kerajaan yang ditawarkan kepada dunia, Gereja-lah yang kemudian melaksanakan tugas menjadi terang itu.

Tuhan Yesus sendiri menggambarkan bahwa kerajaan-Nya adalah sebuah komunitas yang bertumbuh dan berkembang. Gambaran itu didapatkan dari perumpamaan tentang biji sesawi dalam Matius 13:31-32. Pada awalnya, biji sesawi adalah biji terkecil dari segala jenis benih. Tetapi dalam perjalanan waktu, biji itu menjadi lebih besar dari sayuran dan akhirnya menjadi pohon besar yang menjadi tempat bersarang burung-burung di udara.

Ketika Kerajaan Allah ditawarkan, awalnya hanya beberapa orang di lingkar dekat (para rasul) Yesus saja yang menerimanya. Yesus menggunakan masa 3,5 tahun pelayanan-Nya untuk mempersiapkan rasul-rasul bagi berita Injil Kerajaan Allah. Sesudah kebangkitan-Nya, pelaksanaan pemberitaan Injil menjadi lebih gencar dan menembus batas-batas geografis seperti yang Yesus sendiri tegaskan (Yerusalem, Yudea, Samaria dan Ujung Bumi – Kis 1:8). Berita itu telah bergerak dari sebuah kota, kemudian merambat ke sebuah propinsi, merangsek lagi ke pripinsi yang lain, hingga akhirnya menyebarluas hingga ujung bumi.

Hingga hari ini Gereja terus menjadi komunitas yang bertumbuh dan berkembang untuk meluaskan Kerajaan Allah. Dan diskusi tentang hal ini biasanya mengkristal dalam Teologi Pertumbuhan Gereja. Di dalamnya telah tersusun  banyak ide dan teori yang mewarnai pertumbuhan itu sendiri. Salah faktor utama yang memungkinkan pertumbuhan gereja adalah jika orientasi terhadap Amanat Agung Kristus tetap terpelihara dalam gereja.

Orientasi Gereja Masa Kini

Dalam sebuah kesempatan pembekalan terhadap aktivis dan pengurus GBI Bandung awal tahun 2009 silam, Pdt. Julius Ishak Abraham, M.Sc., DD. (Om Julius) memaparkan pengamatannya terhadap kondisi gereja masa kini, secara khusus terhadap orientasi kehidupannya. Om Julius melihat bahwa gereja, sadar atau tidak, telah digerus arus zaman yang membuatnya terbuai dan melupakan tugas utamanya. Beberapa paham berikut ini menyerang gereja:

Liberalisme. Masalah pertama yang dihadapi gereja masa kini adalah liberalisme. Paham yang menekankan kebebasan ini telah meracuni gereja dalam berbagai segi. Salah satunya adalah dengan menyebarkan pemahaman bahwa Yesus Kristus bukan satu-satunya jalan keselamatan. Eksklusifitas Yesus sebagai Juru Selamat sebagaimana diekspresikan Petrus dalam Kisah Para Rasul 4:12, telah direduksi dengan menyodorkan alternatif lain sebagai jalan keselamatan.

Dengan cara ini gereja kemudian ‘terbius’ oleh sebuah pemahaman, “Jika ada keselamatan di luar Kristus, mengapa kita harus menaati Amanat Agung? Toh mereka mungkin akan diselamatkan juga oleh cara yang lain...” Hal ini mengakibatkan keengganan untuk melangkahkan kaki bagi Injil. George W. Peters berpendapat:

Adalah menyedihkan jika ada orang-orang yang hatinya dingin sehingga berita injil menjadi beku, atau jika ada hati yang menyala-nyala namun tidak memiliki berita Injil. Yang pertama menghasilkan sikap ortodoks yang dingin dan tidak hidup; yang kedua melahirkan mistisisme yang tidak jelas, emosionalisme atau fanatisme yang menghanguskan.[1]

Om Julius mengingatkan agar gereja berhati-hati terhadap paham liberalisme ini. Jika sampai gereja mempraktekkan liberalisme dalam kehidupannya, bisa dipastikan bahwa peran spiritual umat Tuhan akan hilang. Gereja tak lebih dari lembaga sosial lain yang miskin kuasa. Om Julius kemudian memaparkan fakta tentang mayoritas gereja-gereja di Eropa yang ibadahnya hanya dihadiri orang-orang tua yang mempersiapkan diri menjelang ajal menjemput. Itupun dengan jumlah yang relatif sedikit. Gedung-gedung katedral yang megah bukan berfungsi sebagai tempat untuk melatih jemaat menjalankan Amanat Agung, tetapi malah disewakan dan berfungsi sebagai kantor bank, asuransi, bahkan klub malam dan diskotik.

Materialisme. Hal kedua yang tak kalah gencar menggempur gereja adalah ‘hantu’ materialisme. Materialisme, asal katanya dari bahasa Inggris : Materialism, dan ajaran ini menekankan pada keunggulan faktor-faktor material”atas yang spiritual” dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.[2] Paham ini menjunjung tinggi hal-hal bendawi sebagai pencapaian tertinggi yang dapat dimiliki manusia. Keberhasilan dan kesuksesan hidup diukur dengan materi sebagai parameternya. Uang dipertuhankan dan menggeser posisi yang seharusnya ditempati Kristus.

Celakanya, seperti yang telah dipesankan Paulus kepada Timotius, gereja pun telah menjadi sasaran empuk bagi penyakit cinta akan uang sebagai akar dari segala kejahatan (1 Tim 6:10). Karena hal ini, sendi-sendi kejemaatan menjadi rapuh, bahkan hancur. Orang pergi beribadah bukan dengan maksud untuk dapat bersekutu dengan Tuhan dan sesamanya, tetapi selalu mencari celah untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain. Jemaat lebih mementingkan keuntungan materi daripada pencerahan dan berkat-berkat rohani. Sikap hidup memberi telah absen karena digantikan dengan nafsu yang rakus untuk mengeruk – mendapatkan – menguasai. Frank Damazio dan Rich Brott mengemukakan bahwa, “Kunci kehidupan adalah memberi. Jika Anda ingin agar uang Anda bermanfaat, maka Anda harus menggunakannya.”[3]

Tidak heran kalau khotbah-khotbah yang ‘laris manis’ di mimbar gereja hari-hari ini adalah khotbah-khotbah yang bertemakan janji berkat materi. Kata-kata “kamu akan naik, bukan turun; jadi kepala, bukan ekor” terus dipelintir sebagai agitasi untuk menunjukkan bukti tentang kelimpahan materi. Sedikit saja yang menyendengkan telinganya bagi kebenaran Alkitab yang utuh dan integral. Penderitaan, akhirnya, selalu didekatkan dengan stigma kutuk atau laknat Ilahi.

Pengejaran terhadap hal-hal yang bersifat kebendaan ini telah membuat sibuk gereja dan akhirnya membuatnya lupa akan tugas utama untuk membawa kabar sukacita. Kalaupun masih memberitakan Injil, isinya telah digeser dari keselamatan kekal karena karya pengorbanan Kristus kepada kehidupan yang diberkati secara jasmani oleh Kritus. Kehidupan kekristenan yang mustinya dinamis –kadang diwarnai berkat-berkat jasmani, tetapi tidak jarang juga harus melewati penderitaan-penderitaan– telah dipahami satu sisi sebagai kehidupan berkelimpahan materi semata-mata. Sungguh sebuah pertunjukkan ketidakseimbangan yang berbahaya karena setiap saat bisa membawa seseorang terjungkal ke dalam lubang materialisme.

Hedonisme. Situs wikipedia.org mendefinisikan Hedonisme sebagai:

Pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalanani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. Dari golongan penganut paham inilah muncul Nudisme (gaya hidup bertelanjang). Pandangan mereka terangkum dalam pandangan Epikuris yang menyatakan, "Bergembiralah engkau hari ini, puaskanlah nafsumu, karena besok engkau akan mati."[4]

Bagaimana hedonisme kemudian mewujud di dalam kehidupan bergereja? Yang paling dapat diamati adalah dalam pola ibadah yang terselenggara. Ibadah yang sifatnya vertikal untuk memuja Allah atas Pribadi dan karya-Nya, kini berubah orientasi menjadi ajang pemuasan diri. Itulah sebabnya orang bertanya, “Apa yang bisa saya dapat dari ibadah saya hari ini?” Orang juga menyatakan, “Saya bahkan tidak mendapatkan apa-apa ketika beribadah di gereja hari ini.” Bukankah seharusnya orang berkata, “Apa yang bisa saya persembahkan kepada Yesus dalam ibadah saya?”

Jemaat datang ke gereja untuk sekadar menikmati musik yang ‘menghibur’ setelah penat beraktivitas. Persekutuan dalam gereja tidak dimaknai sebagai hubungan dalam keluarga Allah, tetapi dianggap seperti restoran yang tanpa ikatan. Dalam kondisi yang demikian, para aktivis pelayanan pun menjadi ‘tergoda’ untuk memuaskan hasrat beribadah yang telah melenceng dari tujuan utamanya itu. Ibadah gerejawi lalu dikemas sebagai ‘entertainment rohani’ yang tidak lupa dibumbui oleh artis-artis yang diundang sebagai ‘gula-gula’ pemanis. Alih-alih menyenangkan Tuhan, jangan-jangan ibadah itu hanya akan mendatangkan komentar Tuhan, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya jauh dari padaKu!”

Peran Pemimpin Gereja

Menurut Christian A. Schwarz, salah satu karakteristik kualitas yang harus dimiliki oleh sebuah gereja lokal untuk menjamin pertumbuhan secara kuantitas adalah empowering leadership (kepemimpinan yang memperkuat, memberdayakan). Kepemimpinan, tak pelak, menjadi faktor yang sangat dominan untuk sebuah gerakan meresponi Amanat Agung Kristus untuk memuridkan bangsa-bangsa.

George W. Peters menggambarkan dinamika pertumbuhan Gereja di dalam bagan di bawah ini:[5]

 

  

gereja

 


Dalam bagan di atas terlihat jelas bahwa ada kaitan yang sangat erat antara gereja yang bertumbuh dengan hadirnya seorang hamba Allah di dalamnya. Roh Kudus sebagai dinamika sentral bergerak dalam pertumbuhan Gereja dengan tiga alat: berita dari Allah, hamba Allah dan gereja Allah. Hamba Tuhan adalah salah satu tiang penopang dari dinamika pertumbuhan Gereja. Sejak gereja berdiri, Allah telah memilih dalam kedaulatan-Nya, orang-orang yang kemudian dipakai-Nya dalam menggerakkan jemaat untuk mengemban Amanat Agung. Thomas Wade Akins melaporkan sebuah survei:

Seorang pendeta sebuah gereja di Amerika yang anggotanya terdiri atas 4000 orang ditanyai, "Apa bedanya menjadi pendeta sebuah gereja yang anggotanya 40 orang dan yang anggotanya 4000 orang?" Jawabannya, "Kepengurusan yang baik!" Penting sekali bagi seorang perintis untuk mempunyai mentalitas melatih orang-orangnya melakukan pekerjaan Tuhan, dan tidak berusaha melakukan segalanya seorang diri. Seorang pendeta dapat mengatur segalanya di dalam gereja yang anggotanya 30 sampai 80 orang. Tetapi bagaimanapun juga, suatu saat, gereja itu akan sampai pada titik dimana tidak akan terjadi perkembangan lebih lanjut kalau ia tidak melatih orang-orangnya dalam bidang metode kepengurusan. Ia harus mendelegasikan tanggung jawab kepada orang-orang yang dewasa kerohaniannya dan yang sudah terlatih. Dengan demikian, peranan utama seorang perintis ialah menjadi seorang pelatih. [6]

Pdt. Victor Liu, Th.M. dalam Seminar Kepemimpinan Gereja dengan tema “Leadership in Local Church: Lead to Grow" menjelaskan bahwa ada beberapa alasan yang dapat menyebabkan gereja tidak bertumbuh yakni:

Pertama adalah karena ketidakpatuhan terhadap amanat Agung Allah yang tertulis dalam Matius 28 yang pada intinya Allah mengamanatkan tugas penjangkauan dan menumbuhkan kepada umat-Nya. Permasalahannya, gereja seringkali hanya berfokus pada bertumbuh tetapi fungsi penjangkauan tidak ada dan tidak memikirkan bagaimana membentuk pemimpin baru. Semuanya dilakukan hanya sebagai suatu rutinitas. Segala sesuatu yang telah dilakukan dan terjadi tidak pernah dievaluasi dalam setahun apakah ada jiwa yang dimenangkan. Alasan yang kedua gereja tidak bertumbuh adalah karena gereja tersebut tidak sehat. Gereja yang sehat adalah gereja yang selalu bertumbuh, jika suatu gereja selau berada pada keadaan yang sama dalam suatu waktu tertentu dan cenderung makin menurun maka gereja tersebut ada masalah.[7]

Dari beberapa rangkuman di atas, dapatlah disimpulkan bahwa dalam menggerakkan jemaat untuk memfokuskan diri pada Amanat Agung, pemimpin gereja memiliki peran yang sangat signifikan. Peran itu setidaknya dapat dilihat dalam beberapa hal berikut ini:

Pertama, hanya seorang pemimpin yang bergantung kepada Roh Kudus yang dapat memiliki hati yang berbelas-kasihan kepada mereka yang terhilang. Roh Kudus sebagai dinamika sentral pertumbuhan gereja adalah Pribadi yang mengimpartasikan belas kasih-Nya kepada hamba-hamba yang akan dipakai sebagai alat-Nya. Hubungan yang erat dengan Roh-Nya akan membawa seorang hamba Tuhan untuk senantiasa merasakan denyut nadi Allah bagi dunia yang terhilang. Sebagaimana Yesus digerakkan oleh belas kasihan ketika melihat jiwa-jiwa telantar yang membutuhkan, demikian juga hamba Tuhan yang berorientasi pada Amanat Agung akan melakukan hal yang sama.

Kedua, seorang pemimpin jemaat harus memiliki hati yang berkobar dan berfokus pada Amanat Agung. Fokus/tujuan adalah alat penggerak yang memungkinkan seseorang berjalan dalam pencapaian. Tanpa tujuan yang jelas, efisiensi dan efektifitas pergerakan tidak akan tercapai. Yang ada hanyalah sebuah aktifitas tanpa produktifitas.

Injil Kristus telah mengubah dan membaharui seorang Julius Ishak, dan karenanya ia senantiasa menggerakkan jemaat yang dipimpinnya dalam fokus itu. Tak heran jika kemudian jargon “DIBERKATI UNTUK MEMBERKATI” dipakai sebagai mottonya. Orang yang telah diselamatkan karena iman kepada Kristus, orang itu pula yang dimotivasi untuk memberitakan keselamatan yang telah dengan cuma-cuma diterimanya. Fokus terhadap Amanat Agung ini telah mendarah daging dalam diri Om Julius.

Awal Juli 2009, ketika ia tergolek lemah karena batu empedu, ia tidak kehilangan gairahnya untuk tetap berbicara tentang tugas pewartaan Injil yaang belum dituntaskan. Kepada pengurus jemaat yang digembalakannya di Jakarta, ia berpesan agar mencari informasi untuk membuka jemaat baru di sebuah kompleks perumahan. Ranjang rumah sakit tidak memudarkan semangat hamba Tuhan kelahiran Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah ini untuk terus berpikir tentang kesempatan-kesempatan memulai jemaat baru. Om Julius amat yakin terhadap tesis Peter Wagner bahwa cara pertumbuhan gereja yang paling efektif adalah dengan penanaman jemaat baru. Pandangan yang diyakininya ini acap muncul dalam khotbah dan ceramah yang disampaikannya.

Ketiga, pemimpin rohani harus berpikir keras untuk regenerasi kepemimpinan. Dalam berbagai kesempatan, baik formal atau tidak, Om Julius sering menyatakan tentang kerinduannya bagi mahasiswa STT  Kharisma. Pesannya selalu tegas, “Kalianlah yang akan menjadi Julius-Julius muda untuk meneruskan berita injil kepada seluruh bangsa.” Ia berharap agar ada lebih banyak orang lagi yang bisa menjadi ‘anak ideologis’ sebagai penerus tongkat estafet kepemimpinannya.

Bukan hanya kepada mahasiswa STT Kharisma yang dibinanya, pesan untuk menjadi pewarta-pewarta Injil juga disampaikannya kepada hamba-hamba Tuhan yang dalam wadah Persekutuan Doa Hamba-hamba Tuhan (PDHT), yang sudah lama dirintisnya. Sebagian mereka adalah pelayan-pelayan yang mengabdikan diri bagi Tuhan di wilayah kota kabupaten dan pinggiran.

Bukan hanya menceramahi adik-adik dan anak-anak rohaninya, Om Julius juga ‘berjibaku’ untuk membantu gereja-gereja di desa secara finansial. Materi-materi pembinaan yang sistematis disertai dengan tips-tips praktis untuk menjalani kehidupan sehari-hari tak lupa disusulkannya. Ia menjembatani terjadinya pertemuan antara gereja kota yang lebih kuat dan gereja desa yang perlu dibantu.

Penutup

Demikianlah Om Julius telah tampil sebagai sosok pemimpin gereja yang orientasi hidupnya diarahkan kepada pemenuhan Amanat Agung Tuhan Yesus. Ia bukan hanya berteori, tetapi menghidupi orientasi itu dengan semangat juang yang tinggi dan tak kenal lelah. Selamat ulang tahun yang ke-70, kiranya semangat untuk membawa jiwa-jiwa bagi Yesus masih akan terus menyala.***

________________________________

*) Joko Prihanto, M.Th. adalah Pembantu Ketua II pada STT Kharisma Bandung dan Koordinator penerbitan Renungan Harian Nilai Kehidupan [RHNK]



[1] George W. Peters, TEOLOGI PERTUMBUHAN GEREJA, Malang: Penerbit Gandum Mas, 2002, hal. 157.

[3]Frank Damazio & Rich Brott, FAMILY FINANCIAL HANDBOOK. Yogyakarta: PBMR ANDI, 2005, hal. 58.

[5]George W. Peters, TEOLOGI PERTUMBUHAN GEREJA, Malang: Penerbit Gandum Mas, 2002, hal. 112.

[6]Thomas Wade Akins, dalam Perintis Penginjilan Memulai Jemaat Baru. http://www.sabda.org/publikasi/misi/2004/43/ 

E Learning

Articles

artikel-umum

Images Gallery

007 copy.jpg

Pengunjung

00665430
Today
Yesterday
All days
30
188
665430

We have 21 guests and no members online

Link


bottom