top
logo

Kharisma News

Login Form

MENCARI ILMU PENGETAHUAN YANG SEJATI

MENCARI ILMU PENGETAHUAN YANG SEJATI 

(Pdt. Junihot Simanjuntak, M.Th)

             Profesor W. S. Heath mengatakan bahwa pembaharuan intelek orang pecaya yang dikerjakan Yesus bersifat ‘noetis”. Dimana kehadiran Roh Yesus dalam kehidupan kita menyebabkan kita tidak lagi berpikir seperti sebelumnya. Perubahan intelek ini tampak dari penjelasan Rasul Paulus dalam 2 Korintus fasal 5, dimana Paulus menyatakan bahwa  inteleknya telah dijernihkan melalui kelahiran rohani dan pemikirannya dikendalikan oleh Roh Kudus dan Firman Allah.

              Pengalaman Paulus tersebut, juga terjadi dalam pengalaman yang sama dialami oleh Profesor Heath, sesaat sesudah Beliau menerima Yesus. Sebelum Beliau menerima Yesus, digambarkan bagaimana intelek Beliau seperti dibatasi oleh sesuatu yang bertentangan dengan praduga-praduga yang sudah biasa bagi Beliau dan yang dianggap merupakan dasar prestasi Beliau sebagai seorang sarjana. Namun setelah Beliau menerima Yesus, segera pembatas itu runtuh. Beliau dapat berpikir tanpa ragu-ragu lagi, dan tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan imannya meski Beliau sudah membaca ribuan buku dan memikirkan ribuan pokok, ilmiha maupun falsafahi. Kecuali bagi pengampunan dosa yang merupakan tujuan utama dari penjelmaan dan pengorbanan Yesus.

               Intelek memegang peranan utama dalam pengalaman Kristen. Segala pertumbuhan iman tergantung pada pertimbangan akal-budi dan keputusan kehendak yang diarahkan oleh akal-budi itu (lihat ajakan Paulus dalam Roma 12:2, agar kita membaharui akal budi kita). Dalam Roma fasal delapan, Paulus mengkontraskan daging dengan roh. Daging adalah pola pikir dunia, roh adalah pola pikir orang Kristen yang dipimpin oleh Roh Kudus.

              Pengetahuan manusiawi dan pengetahuan imani adalah dua hal yang berbeda. Secara manusiawi, pengetahuan mulai dimana kita temukan diri kita , secara induktif, berdasarkan apa yang kita lihat disekitar kita. Sebaliknya dengan iman, kita belajar secara deduktif. Dengan sikap takut akan Allah kita menilai setiap masukan inderawi berdasarkan Firman Allah. Sabda Allah memungkinkan kita mengerti diri kita sendiri serta lingkungan dimana kita menemukan diri.

           Jika kita ingin menemukan ilmu pengetahuan sejati, seharusnya dasar pengetahuan tentang MANA dan MAKNA  harus dimulai dari Kitab Kejadian. Karena makna berasal dari balik alam fana, kita harus terampil membedakan sumber manusiawi dengan sumber ilahi. Oleh sebab itu, satu-satunya kriteria yang boleh dipakai orang Kristen dalam penelitian sains ialah bahwa seluruh alam merupakan ciptaan Allah.

         Saya menegaskan dalam makalah ini, bahwa pada dasarnya Alkitab dimulai dengan masalah pengetahuan. Kejadian fasal satu mengajar tentang Allah dan manusia. Fasal dua mengajar tentang binatang, perbedaan manusia dengan binatang, dan lelaki dan wanita. Fasal tiga memperkenalkan masalah benar dan salah. Fasal-fasal berikutnya menjelaskan dampak pilihan yang salah. Pilihan Adam dan Hawa berbuah dengan pembiakan dosa dan kejahatan. Dosa itu dimulai dari Adam dan Hawa yang hanya melihat ADA tanpa melihat MAKNA dibelakang ucapan Allah yang bersabda: “Jangan kau makan”.

        Pelajaran penting tentang MAKNA Taman Eden bagi kita adalah bahwa pengetahuan kita harus berkembang kea rah dan tujuan yang pasti dan benar. Kita tidak boleh terpancing oleh Iblis dan manusia yang membawa kita ke jalan yang berliku-liku.

       Sebagi implikasi MAKNA Taman Eden dalam konteks pendidikan tinggi, saya menggariskan bahwa sudah sepatutnya para sarjana berkewajiban menguji benar salahnya ajaran para dosen berdasarkan Firman Allah, dan bukan malah membalik, para sarjana menguji kebenaran Alkitab.  Karena kalau kita cermati pengalaman nyata Daniel, kita akan memetik keuntungan yang tak tertandingi dari hasil belajar dari Allah jika  dibandingkan dengan hasil belajar yang diperoleh dari para profesor kafir.  Seharusnya kita menyadari bahwa hampir semua dosen yang mengajar pada abad keduapuluh ini telah berbuat salah yang sama dengan dosen Daniel, mereka tidak rela memakai Firman Allah sebagai pangkal dan tolok ukur pengetahuan. Sekalipun dosen mengetahui isi Alkitab, masih ada kemungkinan mereka berbohong.

        Sewaktu saya belajar dibangkuh kuliah pasca sarjana dengan Profesor Heath dalam matakuliah Iptek dan Iman Kristen,  secara tegas Beliau memaparkan, bahwa sudah seharunya menjadi tugas ‘noetis” para sarjana Kristen untuk menampik segala ajaran yang mengatas namakan “pengetahuan” dengan cara tampil dalam pengamatan, dan trampil menafsirkan hasil pengamatan itu atas dasar yang benar. Tolok ukur kebenaran hanya satu, yaitu Firman Allah. Alkitab harus diterima terlebih dahulu sebagai Firman Allah yang benar untuk kepercayaan, penghayatan, sejarah dan sains.

E Learning

Articles

artikel-umum

Images Gallery

06.jpg

Pengunjung

00664800
Today
Yesterday
All days
46
211
664800

We have 18 guests and no members online

Link


bottom