KERAJAAN DAN GEREJA

Oleh: Tjahjadi Chandra, M.Th.

PENDAHULUAN

Salah satu pertanyaan yang paling sukar dalam studi Kerajaan Allah adalah hubungannya dengan gereja.  Apakah kerajaan Allah itu, sesuai dengan makna kata itu, dapat diidentifikasikan dengan gereja ?  Jika tidak, apa hubungannya ?  Bagi orang-orang Kristen dari tiga abad pertama, Kerajaan itu secara keseluruhan bersifat eskatologis.  Satu doa pada awal abad kedua mengatakan,

“Ingatlah Tuhan, Gereja-Mu, untuk. . . mengumpulkannya bersama dalam kesuciannya dari keempat penjuru angin kepada kerajaan-Mu yang telah Engkau persiapkan untuknya” (A. Von Harnack, “Millennium”, Encyclopedia Britannica, edisi ke-9, XVI, hal 328-329).

Augustinus mengidentifikasikan Kerajaan itu dengan gereja (City of God, XX, hal 6-10), dan menjadi satu identifikasi yang berkelanjutan dalam doktrin Katolik (D.M. Stanley dalam Theological Studies, X, 1955, hal 1-29), meskipun Schnackenburg menyatakan bahwa

konsep baru gereja Katolik atas Kerajaan itu dalam terminologi heilgeschichtlichen sebagai karya penebusan Allah melalui gereja (God’s Rule and Kingdom, 1963, hal 116).

Melalui tradisi Reformasi, diabadikanlah satu ukuran identifikasi antara Kerajaan dan gereja, meskipun dalam bentuk terbatas hingga sekarang (J. Orr, The Christian View of God and the World, 1897, hal 358; H.B. Swete, The Parables of the Kingdom, 1920, hal 31, 56).

Gagasan ini perlu diuji dengan teliti untuk menentukan hubungan apa yang ada di antaranya.

Banyak pakar menyangkal bahwa Yesus mempunyai gagasan menciptakan gereja.  Alfred Loisy memberi pernyataan pandangan klasik ini:

Yesus meramalkan Kerajaan Allah, tetapi gerejalah yang datang (A. Loisy, The Gospel and the Church, 1908, hal 166).

 

Yang mengherankan adalah adanya pandangan yang agak serupa dengan hal ini dari Dispensasionalisme, yaitu

Yesus memberi Israel kerajaan duniawi Daud, tetapi ketika mereka menolaknya Ia memperkenalkan satu maksud baru membentuk gereja (A. Loisy, The Gospel and the Church, 1908, hal 25).

 

Dalam pandangan ini, tidak ada kesinambungan antara Israel dan gereja. Itulah sebabnya kita harus menguji banyak segi dari persoalan itu.

Kalau,  seperti  yang  kita  perkirakan,  misi Yesus   adalah   menahbiskan   pemenuhan awal  dari  penggenapan  eskatologis,  dan bila dalam misi-Nya Kerajaan Allah benar- benar masuk ke dalam sejarah walaupun melalui bentuk yang sama sekali tidak terduga, maka tentunya mereka yang menerima pemberitaan kerajaan itu, tidak hanya  dipandang  sebagai  bangsa  yang akan   mewarisi   Kerajaan   eskatologis   itu saja,   tetapi   sebagai   umat   Kerajaan   itu pada masa kini yaitu kurang lebih gereja. Pertama kita harus meneliti sikap Yesus terhadap Israel, konsep pemuridan, dan hubungan antara Israel dan murid-murid Yesus dengan Kerajaan Allah.   Kemudian, atas dasar latar belakang ini kita dapat membahas arti pembentukan gereja.

YESUS DAN ISRAEL

Dalam penelitian ini, ada beberapa fakta yang menentukan.  Fakta pertama, Yesus    tidak    menjalankan    pelayanan- Nya dengan maksud yang jelas untuk memulai satu gerakan baru, baik di dalam, maupun di luar Israel.  Ia datang sebagai seorang  Yahudi  kepada  bangsa  Yahudi. Ia menerima  kekuasaan  Perjanjian  Lama, memenuhi kebiasaan-kebiasaan bait Allah, sibuk menjalankan ibadah sinagoge, dan sepanjang hidup-Nya Ia hidup sebagai orang Yahudi.    Meskipun  sekali-sekali  Ia  pergi ke luar kawasan Yahudi, Ia menegaskan bahwa misi-Nya ditujukan kepada “domba- domba yang hilang dari umat Israel” (Matius 15:24).  Ia mengarahkan misi murid-murid- Nya jauh dari bangsa-bangsa bukan Yahudi, dan menyuruh mereka hanya memberitakan kepada  bangsa  Israel  saja  (Matius  10:5-6).  Alasan untuk ini tidaklah sulit.  Yesus dengan tegas berdiri pada latar belakang Perjanjian Lama dan janji-janji para nabi, dan memandang Israel, yang diberi wasiat dan janji-janji itu, sebagai “anak-anak Kerajaan” yang alamiah (Matius 8:12).   Ungkapan mengenai domba yang hilang dari bangsa Israel tidak berarti bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi juga tidak hilang, tetapi hanya Israel sajalah umat Allah dan merekalah yang memiliki janji Kerajaan itu.  Itulah sebabnya, misi-Nya adalah memberitakan kepada Israel bahwa Allah sekarang bertindak untuk menggenapi janji-janji-Nya dan membawa Israel  kepada  tujuannya  yang  benar. Karena Israel adalah umat pilihan Allah, maka keseluruhan penggenapan itu tidak diberikan kepada dunia secara keseluruhan tetapi kepada anak-anak perjanjian.

Fakta kedua ialah   bahwa Israel secara keseluruhan telah menolak Yesus maupun pemberitaan-Nya tentang Kerajaan itu.

Memang benar bahwa Yesus mengimbau Israel hingga akhir, tetapi agaknya, sampai akhir pun Ia tidak mengharapkan akan diterima oleh bangsa itu dan mendirikan satu kerajaan moral dan kebenaran yang menuntun bangsa Yahudi kepada satu moral yang mengatasi kerajaan Romawi.  Kenyataan kekecewaan dan duka cita  Yesus  atas  penolakan  Israel  (Matius 23:37) dan nubuat atas kebinasaannya (Lukas 19:42) bukan berarti bahwa sejak awal Yesus tidak mengetahui kenyataan dan kekerasan penolakan Israel (A.M. Hunter, The Works and Words of Jesus, 1950, hal 94).

Sementara kita tidak mungkin menyusun kembali kronologi yang tepat dari kejadian-kejadian itu atau menelusuri tahap- tahap  penolakan  Yesus  karena  sifat  Injil, kita dapat menyimpulkan bahwa penolakan adalah salah satu motif awal dalam pengalamannya.

Lukas dengan hati-hati menempatkan penolakan di Nazaret pada permulaan Injilnya (Lukas 4:16-30; bandingkan dengan Markus 6:1-6)  untuk menyatakan catatan-catatan penggenapan Mesianis dan penolakan oleh Israel pada awal pelayanan Yesus (N.B. Stonehouse, The Witness of Luke to Christ, 1951,  hal  70-76;    N.  Geldenhuys,  Luke, 1950, hal 170).

Markus menggambarkan pertentangan dan penolakan dari permulaan dan mencatat satu ungkapan yang barangkali berisikan satu kiasan terselubung tentang kekerasan akhir: “Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka” (Markus 2:20). Walaupun alasan penolakan orang Yahudi terhadap Yesus itu kompleks, dalam inti pergumulan antara Yesus dan para penguasa Yahudi,   J.M. Robinson menemukan penolakan mereka terhadap Kerajaan yang diberitakan Yesus dan pertobatan  yang dituntut oleh pemberitaan itu (V. Taylor, The Life and Ministry of Jesus, 1954, hal 89). Pemberitaan Kerajaan itu dan panggilan kepada pertobatan menandai misi Yesus dari awal, dan itulah sebabnya baik secara psikologis maupun historis perlawanan itu sejak semual tak dapat diatasi, yang kemudian bertambah hebat hingga kematian Yesus digenapi.

Fakta ketiga,  sama-sama penting. Sementara    Israel    secara    keseluruhan, baik para pimpinan, maupun rakyatnya menolak untuk menerima Kerajaan yang ditawarkan Yesus, satu kelompok penting menanggapinya dalam iman.   Pemuridan untuk yesus bukanlah seperti pemuridan seorang rabi Yahudi.   Para rabi itu tidak mengikat murid mereka kepada diri mereka, tetapi kepada Taurat sedangkan Yesus mengikat murid-murid-Nya kepada diri-Nya sendiri.  Para rabi menawarkan sesuatu di luar  diri  mereka;  Yesus  menawarkan  diri-Nya sendiri.  Yesus menuntut murid-murid- Nya untuk menyerahkan diri tanpa reserve kepada kekuasaan-Nya.  Dengan demikian mereka tidak hanya menjadi murid, tetapi juga douloi, hamba-hamba (Matius 10:24; 24:45; Lukas 12:35-42).  Pemuridan Yesus mencakup jauh lebih daripada sekedar keikutsertaan dalam rombongan-Nya, melainkan tidak kurang dari perserahan pribadi secara utuh kepada Dia dan pemberitaan-Nya.  Alasan untuk itu adalah kehadiran Kerajaan Allah dalam pribadi dan pemberitaan Yesus.  Di dalam Dia, manusia berhadapan langsung dengan Allah sendiri.

Selanjutnya, bila Yesus memberitakan keselamatan Mesianis, bila Ia menawarkan kepada  Israel,  penggenapan  tujuannya yang benar, maka tujuan ini sesungguhnya digenapi bagi mereka yang menerima berita- Nya.  Mereka yang menerima keselamatan Mesianis ini menjadi Israel yang sejati, mewakili bangsa itu secara keseluruhan. Walaupun kata “Israel” itu tidak pernah diterapkan kepada murid-murid Yesus, gagasannya memang ada kalau bukan sekedar terminologi.   Murid-murid Yesus adalah penerima keselamatan Mesianis, umat Kerajaan itu, yaitu Israel yang sejati.

SISA UMAT YANG PERCAYA

Konsep murid-murid Yesus sebagai Israel sejati ini dapat dipahami berdasarkan latar belakang konsep Perjanjian Lama tentang sisa-sisa umat yang masih setia. Para nabi melihat Israel secara keseluruhan sebagai pemberontak dan tidak taat sehingga ditentukan untuk menderita hukuman Ilahi. Namun dalam bangsa yang tidak setia itu masih ada sisa umat yang tetap percaya yang merupakan objek pemeliharaan Tuhan. Di sini sisa umat yang tetap percaya itu adalah umat Allah yang sejati.

Memang benar bahwa Yesus tidak menggunakan konsep umat tersisa secara eksplisit.   Namun, bukankah itu adalah pertanda bahwa murid-murid sebagai “kawanan kecil” (Lukas 12:32) adalah referensi yang tepat terhadap konsep Perjanjian  Lama,  yaitu  Israel  sebagai domba gembalaan Allah, sekarang terwujud dalam  murid-murid  Yesus  (Yesaya  40:11) ?  Bukankah ini dengan tepat menunjukkan bahwa mereka adalah umat tersisa yang masih tetap setia ?  Ini tidak berarti satu kelompok yang terpisah.

Bangsa Israel itu secara ideal adalah tetap  domba-domba  Allah  (Matius  10:6; 15:24); tetapi mereka tidak taat, kawanan yang tegar tengkuk, “domba yang hilang” (Lukas 19:10) untuk menggenapi Yehezkiel 34:15, untuk menyelamatkan domba-domba Israel yang hilang, membawa mereka kembali ke kandang keselamatan Mesianis. Israel   secara   keseluruhan   tuli   terhadap suara panggilan gembalanya; tetapi mereka yang mendengar dan mengikuti gembala itu membentuk kawanan-Nya, kawanan kecil, Israel sejati.  Ada hubungan langsung dan eksplisit antara kawanan domba dengan umat perjanjian Israel (P.S. Minear, Images of the Church in the NT, 1961, hal 85).

Sementara pernyataan dalam Lukas

12:32 menekankan aspek eskatologis Kerajaan itu, murid-murid Yesus akan mewarisi Kerajaan itu karena mereka sekarang adalah kawanan domba-Nya yang kecil.  Gembala itu telah menemukan dan membawa mereka pulang (Lukas 15:3-7). Hal itu terjadi karena mereka telah menjadi kawanan domba yang benar, umat Allah, dan bahwa Allah akan memberi mereka kerajaan eskatologis itu.

Panggilan  Yesus  kepada  kedua belas   murid   untuk   menyebarkan   misi- Nya telah terkenal secara meluas sebagai satu tindakan simbolis yang menyatakan kesinambungan  antara  murid-murid-Nya dan Israel.  Bahwa kedua belas murid itu mewakili Israel ditunjukkan oleh peranan eskatologis mereka.  Mereka akan duduk di atas dua belas takhta, “untuk menghakimi kedua belas suku Israel” (Matius 19:28; Lukas 22:30).  Apakah ungkapan ini berarti bahwa kedua belas itu akan menentukan nasib Israel dengan penghakiman   atau memerintah atas mereka (lihat 1 Sam. 8:5; 2 Raja 15:5; Maz. 2:10; juga W.G. Kummel, Promise and Fulfilment, 1957, hal 47), kedua belas murid itu  ditentukan  sebagai kepala dari Israel eskatologis.

Pengenalan bahwa kedua belas murid itu dimaksudkan untuk membentuk inti Israel yang sejati tidak meniadakan pandangan bahwa bilangan dua belas juga melibatkan satu tuntutan atas seluruh umat sebagai qahal Yesus (Qahal adalah Kata Ibrani untuk Israel sebagai jemaat Allah.  Arti pentingnya kedua belas murid itu ditekankan oleh W.G. Kummel, Promise and Fulfilment, 1957, hal 47).   Dua belas sebagai bilangan lambang menunjuk ke belakang maupun ke depan; ke belakang kepada Israel yang lama dan ke depan kepada Israel eskatologis.

Kedua belas orang itu dimaksudkan untuk menjadi penguasa Israel eskatologis; tetapi mereka sudah menjadi penerima berkat dan kuasa eskatologis.    Itulah sebabnya mereka tidak hanya mewakili umat eskatologis Allah, tetapi juga mereka yang menerima tawaran keselamatan Mesianis masa kini.

Oleh perumpamaan yang dilakukan dengan pemilihan kedua belas orang itu, Yesus mengajarkan bahwa Ia sedang membangun satu jemaat baru untuk menggantikan bangsa yang menolak berita- Nya (C.E.B. Cranfield, Mark, 1959, hal 127; J.W. Bowman, The Intention of Jesus, 1943, hal 214).

Matius 16:18-19

Atas dasar latar belakang pemuridan dan hubungannya dengan Israel dan Kerajaan  Allah,  pernyataan  dalam  Matius 16:18, itu konsisten dengan seluruh ajaran Yesus.      Sesungguhnya  ungkapan  itu secara eksplisit menyatakan konsep yang mendasari seluruh misi Yesus dan tanggapan Israel terhadapnya.   Ungkapan itu tidak berbicara soal penciptaan satu organisasi atau institusi, juga tidak dapat ditafsirkan berkenaan dengan ekklesia Kristen sebagai yang khas tubuh dan mempelai Kristus, tetapi berkenaan dengan konsep Perjanjian Lama mengenai tentang Israel sebagai umat Allah.  Gagasan “membangun” satu umat adalah satu ide Perjanjian Lama (Rut 4:11; Yer. 1:10; 24:6; 31:4; 33:7; Maz. 28:5; 118:22; Amos 9:11).  Lebih jauh, ekklesia adalah satu istilah alkitabiah yang menyatakan Israel sebagai jemaat atau persekutuan Yahweh, sebagai padanan kata Ibrani qahal (Kis. 7:38 berbicara tentang Israel sebagai “ekklesia di padang gurun”, dan tidak menunjuk kepada gereja dalam pengertian Perjanjian Baru, lihat Ul. 5:22; Yehez. 10:12; Maz. 22:22; 107:37; Yoel 2:16; Mikha 2:5. G. Johnson, The Doctrine of the Church in the NT, 1943, hal 36).  Tidak jelas apakah Yesus menggunakan kata qahal atau edhah, yang keduanya dipakai secara umum dalam Perjanjian Lama untuk Israel sebagai umat Allah  (Edhah  biasanya  diterjemahkan dalam LXX dengan ‘Synagoge’, dan tidak diterjemahkan sebagai ekklesia.   Dalam keempat buku Musa yang pertama, Yeremia dan Yehezkiel, qahal  juga diterjemahkan dalam LXX dengan synagoge.  Baik qahal maupun  edhah  dalam  abad  pertama diganti dengan keneseth (Aram kenishta), yang juga dipakai oleh sinagoge lokal Yahudi).   KL Schmidt menekankan istilah terakhir kenishta, atas dasar bahwa Yesus memandang murid-murid-Nya sebagai satu sinagoge khusus yang membentuk Israel sejati.   Namun Yesus tidak bermaksud mendirikan satu sinagoge yang berbeda.

Mungkin saja Yesus memandang persekutuan murid-murid-Nya sebagai Israel yang  sejati  di  dalam  bangsa  yang  tidak taat, dan bukan sebagai satu persekutuan separatis atau “tertutup”.     Ia tidak mengembangkan satu tata ibadah baru, satu pemujaan baru , atau satu organisasi baru. Khotbah dan ajaran-Nya tetap dalam konteks iman dan praktek kebiasaan Israel secara keseluruhan.  Pengumuman Yesus tentang maksud-Nya untuk mendirikan ekklesia– Nya  terutama berkenaan dengan apa yang telah   kita   temukan   dalam   penyelidikan kita tentang pemuridan, yaitu bahwa persekutuan  yang  dibangun  oleh  Yesus itu berdiri atas kesinambungan langsung dengan Perjanjian Lama Israel.  Unsurnya yang khas adalah bahwa ekklesia itu secara khusus adalah, ekklesia Yesus: “Ekklesia-Ku”.  Demikianlah, Israel  yang sejati kini menemukan identitasnya yang khas dalam hubungannya dengan Yesus. Israel sebagai satu bangsa menolak keselamatan Mesianis yang diberitakan oleh yesus, tetapi banyak yang menerimanya.   Yesus memandang murid-murid-Nya mengambil alih   tempat Israel sebagai umat Allah yang benar.

Tidakkah perlu membahas panjang lebar arti batu karang di mana orang-orang yang baru ini akan dibangun.

Dalam pandangan pemakaian Semit di balik teks Yunani ini tidak ada permainan kata Yunani: petros (Petrus) sebagai batu karang dalam satu kapasitas resmi, sebab itu mereka menafsirkan   batu karang itu salah satu, Kristus sendiri (Luther) atau iman Petrus dalam Kristus (Calvin) – (B. Ramm, Foundation, V, 1962, hal 206-2016).

Namun demikian, Cullmann secara pensuasif bersikeras mengatakan bahwa

Batu karang itu sesungguhnya Petrus bukan dalam satu kapasitas resmi atau oleh kebaikan kualifikasi pribadinya, melainkan sebagai wakil dari kedua belas orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias.   Batu karang itu adalah Petrus, si pengaku (D.H. Wallace dan L.E. Keck, Foundations, V, hal 221, 230).

Yesus mengantisipasi satu tahapan baru dalam pengalaman murid-murid-Nya di mana Petrus akan menjadi pemimpin yang menonjol.

Tidak  ada  petunjuk  dalam  konteks itu bahwa ini adalah satu kepemimpinan resmi yang dapat diwariskan Petrus kepada penerusnya. Sesungguhnyalah, Petrus batu karang fondasi itu dengan mudah dapat menjadi  batu  karang  sandungan  seperti yang ditunjukkan ayat-ayat berikutnya (P.S. Minear, Christian Hope and the Second Coming, 1954, hal 186).

Ungkapan tentang pembangunan gereja sesuai dengan seluruh ajaran Yesus, dan ini berarti bahwa Ia memandang kelompok orang yang menerima berita-Nya itu  adalah  anak-anak  Kerajaan  itu,  Israel yang sejati, umat Allah.

Tidak ada syarat-syarat mengenai bentuk kelompok baru itu.    Ungkapan mengenai  disiplin  dalam  “gereja”  (Matius 8:17) memandang murid-murid itu sebagai satu persekutuan khusus, sebagaimana halnya dengan sinagoge Yahudi, tetapi memberi sedikit penjelasan pada bentuk atau organisasi persekutuan baru itu [Keautentikan ayat ini sering diragukan, tetapi “tidak satu pun membenarkan pandangan bahwa Yesus tidak mungkin mengucapkan kata-kata itu”] – (F.V. Filson, Matthew, 1960, hal 201).

Gereja sebagai satu badan yang terpisah dari Yudaisme dengan organisasi dan tata ibadah sendiri adalah satu perkembangan historis  berikutnya,  tetapi itu adalah satu manifestasi historis dari satu persekutuan baru yang didirikan oleh yesus sebagai umat Allah yang benar, yang karena telah menerima keselamatan Mesianis yang menggantikan bangsa pemberontak itu sebagai Israel yang sejati.

KERAJAAN DAN GEREJA

Sekarang kita harus meneliti hubungan khusus antara Kerajaan itu dan gereja, dengan menerima bahwa kumpulan murid-murid Yesus sebagai cikal bakal gereja, atau gereja itu sendiri (‘gereja embrio’). Pemecahan persoalan ini akan tergantung pada apa definisi Kerajaan itu.  Bila konsep dinamis Kerajaan itu benar, Kerajaan itu tidak pernah diidentifikasikan dengan gereja. Kerajaan itu terutama adalah pemerintahan dinamis atau kekuasaan itu dialami.

Dalam idiom alkitabiah, Kerajaan itu tidak diidentifikasikan dengan subyeknya. Mereka adalah umat pemerintahan Allah yang  memasukinya,  hidup  di  dalamnya, dan diperintah olehnya.   Gereja adalah masyarakat Kerajaan itu, tetapi bukan Kerajaan itu sendiri.   Murid-murid Yesus adalah milik Kerajaan itu sebagaimana Kerajaan itu adalah milik mereka; tetapi mereka bukan kerajaan itu. Kerajaan adalah pemerintahan Allah, sedangkan gereja adalah  masyarakat  manusia  (R.N.  Flew, Jesus His Church, 1943, hal 13; H. Roberts, Jesus and the Kingdom of God, 1955, hal 84, 107).

  1. GEREJA BUKANLAH KERAJAAN ITU

Hubungan ini dapat dijelaskan dalam lima segi. Pertama, Perjanjian Baru tidak menyamakan orang-orang percaya dengan Kerajaan itu.      Para misionari pertama memberitakan Kerajaan Allah, bukan gereja (Kis. 8:12; 19:8; 20:5; 28:23,31).  Tidaklah mungkin untuk menggantikan “Kerajaan” dengan “gereja” dalam ucapan-ucapan demikian.   Satu-satunya referensi pada manusia  sebagai  basileia  adalah  Wahyu 1:6 dan 5:10; tetapi manusia itu sangat terpilih bukan karena mereka subyek dari pemerintahan Allah, tetapi karena mereka akan berbagi pemerintahan Kristus. “Mereka akan memerintah . . . di bumi” (Wahyu 5:10). Dalam  ungkapan-ungkapan  ini  “kerajaan” itu bersinonim dengan “raja-raja”, bukan dengan manusia, yang diperintah oleh Allah.

Tidak satu pun ucapan dalam Injil yang menyamakan murid-murid Yesus dengan kerajaan itu.  Identifikasi semacam itu sering terlihat dalam perumpamaan lalang; dan pernyataan bahwa Anak Manusia akan    mengumpulkan    segala    sesuatu yang menyesatkan “dari dalam Kerajaan- Nya” (Matius 13:14) sebelum  kedatangan Kerajaan Bapa (Matius 13:43) tampaknya memang memberi petunjuk bahwa gereja sama dengan Kerajaan Kristus (T.W. Manson,  The  Teaching  of  Jesus,  1935, hal 222; A.E.  Barnett, Understanding the Parables of Our Lord, 1940, hal 48-50;  G. MacGregor, Corpus Christi, 1958, hal 122).

Namun, perumpamaan itu sendiri dengan jelas menyebutkan ladang itu sebagai dunia, bukan gereja (Matius 13:38). Berita perumpamaan itu tidak ada sangkut- pautnya dengan gereja, tetapi mengajarkan bahwa Kerajaan Allah telah merembes ke dalam sejarah tanpa  mengganggu struktur masyarakat.  Kebaikan dan kejahatan hidup bercampur di dunia sampai penggenapan eskatologis, meskipun    Kerajaan Allah sendiri  telah  datang.    Ungkapan  tentang mengumpulkan  yang  jahat  dari  kerajaan itu adalah pemashur masa ke depan bukan masa lalu (George Eldon Ladd, Teologi PB, jilid 1, “Misteri Kerajaan itu”, hal 118-136).

Adalah juga keliru untuk mengidentifikasikan  Kerajaan  itu  dan gereja berdasarkan Matius 16:18-19.  Vos menekan bahasa metafora itu terlalu jauh ketika ia bersikeras bahwa identifikasi itu harus  dilakukan  karena  bagian  pertama dari ungkapan itu berbicara tentang fondasi rumah dan bagian kedua melihat rumah itu lengkap dengan pintu dan kunci.

“Tidak mungkin itu berarti bahwa rumah itu berarti satu hal dalam pernyataan pertama dan hal lain dalam pernyataan kedua”.  Itulah sebabnya Vos dengan yakin menegaskan bahwa gereja adalah Kerajaan (Vos, The Teaching of jesus Concerning the Kingdom of God and the Church, 1903, hal 150). 

Namun, memang itulah karakter bahasa metafora yang memiliki sifat berubah-ubah seperti itu.    Perikop ini menyatakan hubungan yang tak terpisahkan antara gereja dan kerajaan itu, tetapi bukan identitas keduanya. Ungkapan yang banyak mengenai masuk ke dalam Kerajaan itu tidaklah sama dengan memasuki gereja. Adalah membingungkan jika dikatakan bahwa “gereja adalah bentuk Kerajaan Allah yang ada antara kenaikan dan kedatangan kembali Yesus” (‘Gereja [bukan sebagai lembaga,    tetapi    sebagai     masyarakat yang dikasihi] adalah Kerajaan Allah di dalam proses historis’).   Memang, ada analogi tertentu antara alam konsep itu dalam hal Kerajaan itu sebagai lingkungan pemerintahan Allah maupun gereja sebagai dunia di mana manusia boleh masuk. Tetapi Kerajaan itu sebagai alam pemerintahan Allah masa kini tidaklah kelihatan, bukan fenomena dunia ini, sedangkan gereja itu adalah satu badan manusia yang empiris. Tepatlah perkataan John Bright bahwa

Tidak ada petunjuk sedikit pun bahwa gereja yang kelihatan itu adalah Kerajaan Allah  atau  menghasilkan  Kerajaan  Allah (John Bright, The Kingdom of God, 1953, hal 236).

Gereja adalah rakyat dari Kerajaan itu, bukan Kerajaan itu sendiri.  Itulah sebabnya tidaklah menolong untuk mengatakan bahwa gereja adalah “bagian dari kerajaan itu”, atau bahwa di dalam penggenapan eskatologis gereja dan  Kerajaan akan menjadi sama (R.O. Zorn, Church and the Kingdom, 1962, hal 9, 83, 85).

 

  1. KERAJAAN ITU MENCIPTAKAN GEREJA

Kekuasaan Allah yang dinamis yang hadir dalam misi Yesus itu, menantang manusia untuk menanggapi, dan membawa mereka ke dalam satu persekutuan yang baru. Hadirat Kerajaan itu berarti penggenapan pengharapan  Mesianis  yang  dijanjikan dalam  Perjanjian  Lama  kepada  Israel; tetapi ketika bangsa itu secara keseluruhan menolak tawaran itu, maka mereka yang menerimanya, dibentuk sebagai umat Allah yang baru, anak-anak Kerajaan, Israel yang sejati, gereja yang baru jadi.

“Gereja adalah hasil dari kedatangan Kerajaan Allah ke dalam dunia oleh misi Yesus Kristus” (H.D. Wendland, The Kingdom of God and History, 1938, hal 188).`

 

Perumpamaan menebarkan jala mengandung pelajaran tentang karakter gereja dan hubungannya dengan Kerajaan itu.  Kerajaan itu adalah satu tindakan yang diumpamakan dengan penebaran jala melalui laut. Dalam gerakannya, jala itu menangkap bukan saja ikan yang baik, tetapi juga yang jelek; dan ketika jala itu ditarik ke pantai, ikan- ikan itu harus dipilih. Itulah tindakan Allah di antara manusia. Kerajaan itu sekarang tidak menciptakan satu persekutuan yang murni; bahkan di dalam rombongan Yesus terdapat seorang pengkhianat. Walau perumpamaan ini harus ditafsirkan berkenaan dengan pelayanan Yesus, namun prinsip-prinsipnya diterapkan di gereja.   Tindakan Kerajaan Allah   di   antara   manusia   menciptakan satu  persekutuan  campuran,  pertama dalam murid-murid Yesus dan kemudian dalam   gereja.      Kedatangan   eskatologis

Kerajaan itu akan berarti penghakiman atas masyarakat manusia secara umum (lalang) dan khususnya atas gereja (penebaran jala). Hingga saat itu, persekutuan yang tercipta oleh  tindakan  Kerajaan  Allah  masa  kini akan meliputi orang-orang yang sebenarnya bukan anak-anak Kerajaan itu.  Karena itu, gereja yang empiris memiliki dua karakter. Mereka adalah umat Kerajaan itu namun masih  belum  menjadi  orang-orang  yang ideal karena masih terdapat beberapa  yang sebenarnya bukan anak-anak Kerajaan itu.

Jadi,  memasuki Kerajaan itu berarti ikut serta dalam gereja; tetapi masuk gereja tidak berarti sama dengan masuk ke dalam Kerajaan itu (R. Schnackenburg, God’s Rule and Kingdom, hal 231).

 

III. GEREJA BERSAKSI UNTUK KERAJAAN   ITU

Gereja tidak dapat membangun atau menjadi Kerajaan itu, melainkan menyaksikan Kerajaan itu – tentang tindakan penebusan Allah di dalam Kristus, baik masa lampau maupun yang akan datang.  Ini dilukiskan dalam misi yang diberikan Yesus kepada kedua belas orang murid (Matius 10) dan kepada ketujuh puluh orang murid (Lukas

10)  serta  dipertegas  dalam  pemberitaan para rasul dalam buku Kisah Para Rasul.

Jumlah utusan pada dua kali misi khotbah itu kelihatannya memiliki makna simbolis.  Kebanyakan pakar yang menolak anggapan bahwa pemilihan kedua belas murid-rasul itu dimaksudkan untuk menjadi cikal bakal Israel sejati, melihat bahwa dalam bilangan dua belas itu satu gambaran penting bahwa Yesus menunjukkan berita-Nya untuk seluruh Israel.   Itulah sebabnya kita juga harus memandang bahwa 70 itu mempunyai simbolis.    Karena  menurut  tradisi  Yahudi ada 70 bangsa di dunia dan bahwa Taurat yang pertama diberikan dalam 70 ungkapan kepada semua orang, maka pengutusan ke-

70 orang itu secara implisit merupakan satu penegasan bahwa pemberitaan Yesus harus didengar, bukan saja oleh israel, tetapi oleh semua orang.

Dimasukkannya  orang-orang  bukan Yahudi   sebagai   penerima   Kerajaan   itu diajarkan dalam ungkapan lain.   Ketika penolakan Israel terhadap penawaran Kerajaan itu tak dapat diubah lagi.  Yesus dengan sungguh-sungguh mengumumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi umat pemerintahan Allah, dan bahwa tempat mereka diambil alih oleh orang lain yang terpercaya (Markus 12:1-9).  Perkataan ini oleh Matius ditafsirkan sebagai, “Kerajaan Allah akan diambil daripadamu dan akan diberikan kepada satu bangsa yang akan menghasilkan  buah  Kerajaan  itu”  (Matius 21:43). Jeremias berpendapat bahwa

Makna asli perumpamaan ini adalah pemberitaan Injil Yesus kepada orang miskin.  Karena para pemimpin bangsa itu menolak pemberitaan itu, tempat mereka sebagai  penerima  Injil   harus   digantikan oleh orang miskin yang mendengar dan menanggapinya (J. Jeremias, The Parables of Jesus, 1963, hal 76; A.M. Hunter menunjukkan bahwa Penafsiran ini kelihatannya sembarangan [A.M. Hunter, Interpreting the Parables, 1960, hal 94]).

Namun demikian, sesuai dengan Yesaya 5, bahwa kebin anggur itu adalah Israel sendiri, lebih besar kemungkinannya bahwa penafsiran Matius itu benar dan perumpamaan   itu   berarti   bahwa   Israel tidak akan lagi menjadi umat kebun anggut Allah, tetapi akan diganti oleh orang lain yang  menerima  berita  Kerajaan  itu  (Pra rabi mengajarkan bahwa pada masa silam Kerajaan itu telah diambil dari Israel karena dosa-dosanya dan telah diberikan kepada bangsa-bangsa di dunia).

Gagasan serupa timbul pada latar belakang eskatologis dalam ungkapan mengenai  penolakan  anak-anak  Kerajaan itu – Israel – dan penggantiannya oleh orang bukan Yahudi dari mana-mana untuk duduk dalam perjamuan Mesias di dalam Kerajaan eskatologis Allah (Matius 8:11-12).

Bagaimana keselamatan orang-orang bukan Yahudi ini akan digenapi dinyatakan dalam pernyataan Bukit Zaitun.  Sebelum tiba mas akhir, “Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa” (Markus 13:10); dan menurut versi Matius yang dianggap sebagai bentuk lebih tua oleh Jeremias, menjelaskan bahwa inilah kabar baik tentang Kerajaan Allah  (Matius  24:14)  yang  dikhotbahkan oleh Yesus sendiri (Matius 4:23; 9:35). Kritik terakhir menolak keautentikan ungkapan ini (W.G. Kummel,  Promise  and  Fulfilment, hal 85) atau menafsirkannya sebagai satu pemberitaan esktologis oleh para malaikat yang akan menggenapi keselamatan orang- orang bukan Yahudi pada akhir zaman (J. Jeremias, Jesus Promise to the Nations, 1958, hal22). Namun Cranfield menunjukkan bahwa kata kerja keryssein  dalam Markus selalu menunjuk kepada pelayanan manusia dan  itulah  sebabnya  kata  dalam  Markus 13:10 itu lebih cenderung memiliki pengertian Perjanjian Baru yang khas.

Hal itu adalah bagian dari maksud eskatologis Allah bahwa sebelum akhir zaman, semua bangsa harus memiliki kesempatan mendengar Injil (G.R. Beasley- Murray,  Jesus  and  the  Future,  1954,  hal 194).

Di sini kita menemukan ekstensi teologi pemuridan bahwa misi gereja adalah menyaksikan  Injil  Kerajaan  itu  di  dunia. Israel bukan lagi saksi Kerajaan Allah karena gereja telah mengambil alih tempatnya. Itulah sebabnya K.E. Skydsgaard mengatakan bahwa:

Sejarah Kerajaan Allah telah menjadi sejarah misi Kristen (K.E. Skydsgaard, Kingdom of God is Christian Mission, 1951, hal 390).

Jika murid-murid Yesus adalah mereka yang telah menerima hidup dan persekutuan  Kerajaan  itu,  dan  jika  hidup ini sesungguhnya adalah antisipasi atas Kerajaan   eskatologis,   maka   salah   satu tugas utama dari gereja ialah menunjukkan hidup dan persekutuan dari Masa Yang Akan Datang dalam masa jahat masa kini. Gereja memiliki karakter ganda sebab termasuk dalam dua masa.  Gereja adalah umat pada Masa Yang Akan Datang, tetapi masih hidup dalam masa kini, dan dari orang-orang fana yang berdosa.      Ini berarti bahwa walau gereja berada dalam masa kini tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, namun gereja harus menunjukkan tatanan hidup sempurna, yaitu Kerajaan eskatologis Allah.

Dukungan eksegese untuk pandangan ini secara implisit ditemukan dalam penekanan besar yang diberikan Yesus pada pengampunan dan kerendahan hati di antara murid-murid-Nya.  Perhatian terhadap hal- hal yang besar yang merupakan hal lumrah dewasa ini, adalah satu kontradiksi dalam kehidupan Kerajaan itu (Markus 10:35 dst.). Mereka yang telah mengalami Kerajaan Allah itu harus menunjukkan kehidupan yang bersedia melayani dengan kerendahan hati, dan bukan berjuang untuk diri sendiri.

Bukti  lain  dari  kehidupan  Kerajaan itu adalah satu persekutuan yang tidak terganggu oleh rasa dengki dan benci. Itulah sebabnya Yesus banyak mengatakan tentang pengampunan karena pengampunan yang sempurna adalah bukti dari kasih.  Yesus bahkan mengajarkan bahwa pengampunan manusia dan pengampunan ilahi tidak dapat dipisahkan (Matius 6:12, 14). Perumpamaan mengenai pengampunan menjelaskan bahwa pengampunan manusia dikondisikan oleh pengampunan ilahi (Matius 8:23-25). Maksud   perumpamaan   ini   ialah   bahwa bila seseorang merasa telah menerima pengampunan Allah, yang tak bersyarat dan yang sebetulnya tidak  layak diterima, yaitu salah satu anugerah dari Kerajaan itu dan kemudian ia tidak bersedia mengampuni kesalahan orang lain yang realtif sepele, maka ia menyangkali kenyataan bahwa ia memiliki pengampunan ilahi dan kelakuannya itu bertentangan dengan kehidupan dan karakter  Kerajaan  itu.  Sesungguhnya orang semacam itu belum mengalami pengampunan Allah.  Itulah sebabnya tugas gereja   adalah   menunjukkan   kehidupan dan persekutuan Kerajaan Allah dan Masa Yang Akan Datang dalam masa yang jahat yang hanya mencari untuk kepentingan diri sendiri, keangkuhan, dan kedengkian.  Hal itu adalah unsur penting dalam kesaksian gereja untuk Kerajaan Allah.

IV.GEREJA ADALAH ALAT KERAJAAN

Murid-murid Yesus tidak hanya memberitakan kabar baik mengenai kehadiran  Kerajaan  itu,  mereka  juga adalah alat dari Kerajaan itu dalam hal bahwa      pekerjaan-pekerjaan      Kerajaan itu dilaksanakan melalui mereka seperti halnya melalui Yesus sendiri.    Sementara mereka pergi memberitakan Kerajaan itu, mereka  juga  menyembuhkan  orang  sakit dan  mengusir  setan  (Matius  10:8;  Lukas 10:17).  Walaupun mereka adalah utusan, namun kuasa Kerajaan itu juga bekerja melalui mereka seperti melalui Yesus. Kesadaran  mereka  bahwa  mujizat-mujizat ini terjadi bukan oleh kuasa mereka sendiri menunjukkan bahwa mereka tidak pernah mengadakan mujizat dalam persaingan atau kesombongan. Laporan ketujuh puluh orang murid itu diberikan tanpa kepentingan pribadi dan perserahan total sebagai alat-alat Allah.

Kebenaran itu tersirat dalam pernyataan bahwa gerbang alam maut tidak akan menguasai gereja (Matius 16:18). Gambaran tentang pintu alam maut ini adalah satu konsep orang Semit yang umum (Yesaya 38:10; Mazmur 9:13; 107:18; Ayub 38:17).  Arti yang tepat dari ucapan ini tidak jelas.

Mungkin berarti bahwa gerbang alam maut (Hades) yang dipercayai sebagai sesuatu yang tertutup di belakang semua orang mati sehingga tidak mungkin kembali, sekarang tidak lagi akan sanggup menguasai kurban-kurbannya, tetapi dipaksa terbuka oleh kuasa-kuasa Kerajaan yang dijalankan melalui gereja.  Gereja menjadi lebih kuat daripada kematian dan akan melepaskan manusia dari kuasa alam maut menuju kehidupan (Peter: Disciple-Apostle, Martyr, hal 202).

Namun, sesuai dengan kata kerja yang  dipakai  kelihatannya  alam  maut adalah  agresor  yang  menyerang  gereja. Jadi artinya, bila manusia dibawa ke dalam keselamatan Kerajaan Allah yang bekerja melalui gereja, maut telah kehilangan kuasanya atas manusia dan tak sanggup menuntut kemenangan akhir.

 

Tidaklah     perlu     menghubungkan hal ini dengan konflik eskatologis akhir, sebagaimana yang dilakukan oleh Jeremias (J. Jeremias, The Document of   New Testament, VI, hal 927), mungkin hal itu dapat dipahami sebagai suatu perpanjangan konflik antara Yesus dengan iblis (P.S. Minear, Images of the Church in the NT, hal 50), yang pada kenyataannya sudah dialami murid-murid Yesus.   Sebagai   alat dari kerajaan itu, mereka telah melihat manusia dibebaskan dari perhambaan penyakit dan maut (Matius 10:8).  Pergumulan Mesianis dengan kuasa maut yang mengamuk semasa pelayanan Yesus dan yang telah dialami juga oleh murid-murid-Nya, akan berlanjut pada masa depan dan gereja akan menjadi alat Kerajaan Allah dalam pergumulan ini.

V. GEREJA: “PENJAGA KERAJAAN”

Menurut konsep rabi, Kerajaan Allah Yahudi mengandung pengertian bahwa Israel adalah penjaga Kerajaan itu. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang dimulai di bumi sejak Abraham dan dijalankan terhadap Israel melalui Taurat.  Karena pemerintahan Allah hanya dapat dialami melalui Taurat, dan karena Israel adalah penjaga Taurat, maka akibatnya, Israel adalah penjaga Kerajaan Allah.  Bila seorang bukan yahudi menjadi pemeluk agama Yahudi, dengan menjalankan Taurat, dengan sendirinya ia menerima kedaulatan surga, kedaulatan kerajaan Allah.     Pemerintahan Allah dijalankan ke atas bangsa-bangsa bukan Yahudi melalui Israel; mereka sendirilah “anak-anak Kerajaan itu”.

Di dalam Yesus, pemerintahan Allah memanifestasikan diri dalam peristiwa penebusan, yang menyatakan kuasa-kuasa kerajaan eskatologis dalam cara yang tidak terduga dalam sejarah. Bangsa Israel secara keseluruhan menolak pemberitaan peristiwa ilahi ini, tetapi mereka yang menerimanya dijadikan anak-anak Kerajaan yang sejati dan masuk dalam sukacita berkat dan kuasa-Nya. Murid-murid Yesus ini ekklesia– Nya,   sekarang menjadi petugas-petugas Kerajaan itu, bukan bangsa Israel. Kerajaan itu diambil dari Israel dan diberikan kepada bangsa lain – ekklesia Yesus (Matius 12:9). Murid-murid   Yesus   bukan   hanya   saksi dan alat Kerajaan itu karena menyatakan kuasanya pada masa ini; mereka adalah penjaganya.

Kenyataan ini terungkap dalam ungkapan mengenai kunci Yesus akan memberi kunci-kunci kerajaan surga kepada ekklesia-Nya  dan  apa  pun  yang  mereka ikat atau lepaskan di bumi akan terikat atau terlepas di surga (Matius 16:19).

Karena idiom mengikat dan melepaskan dalam pemakaian para rabi sering   menunjuk   kepada   larangan   dan izin melakukan tindakan tertentu, maka ungkapan ini sering ditafsirkan berkaitan dengan pengawasan atas administrasi gereja (O Cullmann: Peter: Disciple – Apostle – Martyr, hal 204).

Latar belakang konsep ini ditemukan dalam Yesaya 22:22 di mana Allah mempercayakan kunci rumah Daud kepada Elyakim, satu tindakan yang mencakup pengelolaan seluruh rumah itu.   Sesuai dengan   penafsiran   ini,   kepada   Petrus, Yesus memberikan kuasa untuk membuat keputusan untuk tindakan-tindakan di gereja yang akan diawasinya.    Ketika Petrus menyingkirkan kebiasaan Yahudi sehingga ada  persekutuan  dengan  orang-orang bukan Yahudi, ia menjalankan kekuasaan administrasi (Kis. 10-11).

Hal  ini  memang  mungkin,  namun ada penafsiran lain yang lebih dekat.  Yesus mengutuk ahli-ahli Taurat dan orang Farisi karena mereka telah mengambil kunci pengetahuan, dan menghalangi orang masuk ke dalam Kerajaan Allah, padahal mereka sendiri  tidak  mau  masuk  (Lukas 11:52).  Pemikiran yang sama timbul dalam Injil  pertama  (Matius),  “Celakalah  kamu, hai kamu ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, hai   kamu   orang-orang   munafik,   karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang.  Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk” (Matius 23:13).

Dalam  idiom  Alkitab,  pengetahuan itu  melampaui  persepsi  intelektual. Hal  itu adalah “harta rohani yang berdasarkan penyataan” (R. Bultmann, NT Theology, 1, hal 700).

Kekuasaan yang dipercayakan kepada Peturs itu berdasarkan atas penyataan, yaitu pengetahuan rohani yang dimiliki bersama dengan kedua belas murid. Sebab itu Kunci-kunci kerajaan itu adalah “pengertian batin yang akan menyanggupkan Petrus menuntun orang lain masuk melalui pintu penyataan yang telah dilewatinya” (R.N. Flew, Jesus and His Church, hal 95).

Kuasa untuk mengikat dan melepaskan mencakup kuasa untuk mengizinkan masuk atau mengeluarkan orang dari alam Kerajaan Allah. Kristus akan membangun ekklesia-Nya atas Petrus dan atas mereka  yang ikut berbagi wahyu ilahi tentang keMesiasan Yesus. Kepada mereka juga diserahkan wahyu yang sama kuasa untuk mengizinkan orang-orang memasuki alam berkat Kerajaan itu atau mengeluarkan orang-orang dari keikutsertaan yang demikian.

Penafsiran ini didukung oleh penggunaan para rabi, karena pengikatan dan pelepasan dapat juga menunjuk kepada penugasan atau pemecatan (Strack dan Billerbeck, Komentar, I, hal 738).  Arti ini terungkap dengan sangat jelas dalam Matius 18:18 di mana seorang anggota jemaat yang tidak bertobat dari dosa terhadap saudaranya, harus dikucilkan dari persekutuan; karena “apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga”. Kebenaran yang sama ditemukan dalam satu ungkapan Yohanes di mana Yesus yang telah bangkit melakukan tindakan perumpamaan dengan menghembuskan nafas kepada murid- murid-Nya, yang berarti menjanjikan Roh Kudus sebagai pelengkap misi masa depan mereka. Sesudah itu Yesus berkata, “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yohanes 20:23).   Ini tidak dapat dipahami sebagai wewenang yang sewenang-wenang, melainkan adalah suatu hal yang pasti untuk menyaksikan Kerajaan Allah. Lebih jauh, itu bukan wewenang yang dijalankan Petrus, tetapi oleh semua murid, oleh gereja.

Dalam kenyataannya, murid-murid telah menjalankan kuasa mengikat dan melepaskan ini ketika mereka mengunjungi kota-kota Israel untuk memberitakan Kerajaan Allah.  Di mana saja mereka dan berita mereka diterima, damai sejahtera tinggal atas rumah itu; tetapi sebaliknya, di mana saja mereka dan berita mereka ditolak, hukuman Allah telah ditetapkan  atas rumah itu (Matius 10:14-15).

Sesungguhnyalah, mereka adalah alat dari kerajaan itu dalam hal pengampunan dosa-dosa; dan atas dasar fakta itu, mereka juga petugas Kerajaan itu.   Pelayanan mereka itu membuahkan hasil yang nyata, yaitu membuka pintu Kerajaan itu untuk manusia  atau  menutupnya  bagi  mereka yang menolak berita mereka (O Cullmann, Peter: Disciple-Apostle-Martyr, hal 205).

Kebenaran ini dinyatakan dalam ungkapan lain, “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut    Aku,    ia    menyambut    Dia yang mengutus Aku” (Matius 10:40; lihat Markus 9:37).  Gambaran dramatis tentang pemisahan domba dari kambing menyatakan cerita  yang  sama  (Matius  25:31-46).    Ini tidak dapat dipahami sebagai satu program penggenapan eskatologis, yang paling pokok.  Yesus mengutus murid-murid-Nya (“saudara-saudara-Nya”; bandingkan dengan Matius 12:48-50) ke dunia sebagai petugas Kerajaan itu.   Karakter misi pemberitaan mereka ialah seperti yang dijelaskan dalam Matius 10:9-14.   Keramahtamahan yang mereka terima dari para pendengar mereka adalah satu bukti nyata dari reaksi manusia terhadap pemberitaan mereka.   Mereka akan tiba dalam beberapa kota kecil dalam keadaan  letih  lesu  dan  sakit;  lapar  dan haus, dan kadang-kadang dipenjarakan karena memberitakan Injil.  Beberapa akan menyambut mereka, menerima pemberitaan mereka  dan  melayani  kebutuhan  jasmani mereka;  yang  lain  akan  menolak  mereka maupun berita mereka.

“Perbuatan orang-orang benar itu bukan hanya sekedar perbuatan baik. Perbuatan  itu  adalah  tindakan  di  mana misi Yesus dan para pengikut-Nya dibantu, dibantu dengan pengorbanan, bahkan pengorbanan yang mengandung resiko” (T.W. Manson, The Sayings of Jesus, 1949, hal. 251).

Untuk   menafsirkan   perumpamaan ini sebagai ajaran bahwa orang-orang yang menunjukkan kebajikan adalah “orang Kristen yang tidak terduga” tanpa referensi kepada misi dan pemberitaan Yesus, berarti mengangkat perumpamaan itu secara keseluruhan dari konteks historisnya.

Perumpamaan itu menyatakan kesetiakawanan antara Yesus dan murid- murid-Nya pada waktu Ia mengutus mereka ke dunia membawa kabar baik dari Kerajaan itu (J.R. Michaels, “Apostle Hardship and Righteous Gentles”, 1965, hal 27-37).

Nasib akhir manusia akan ditentukan oleh cara mereka menanggapi utusan- utusan Yesus.   Menerima mereka berarti menerima Tuhan yang mengutus mereka. Meskipun ini bukan fungsi resmi, namun jelaslah bahwa murid-murid Yesus – gereja- Nya – adalah petugas Kerajaan itu.  Melalui pemberitaan Injil Kerajaan itu di dunia akan ditetapkan siapa yang akan masuk ke dalam Kerajaan eskatologis dan siapa yang ditolak.

KESIMPULAN

Kerajaan dan gereja memang dapat dipisahkan, tetapi keduanya tidak dapat diidentifikasikan.  Kerajaan itu bermula dari Allah, gereja dari manusia.   Kerajaan ini adalah pemerintahan Allah  dan merupakan alam di mana berkat-berkat pemerintahan- Nya dialami, sedangkan gereja adalah persekutuan dari mereka yang telah mengalami pemerintahan Allah dan masuk ke dalam sukacita berkat-berkat-Nya. Kerajaan itu menciptakan  gereja, bekerja melalui gereja, dan diberitakan di dunia oleh gereja.    Tidak  akan  ada  Kerajaan  tanpa gereja, yaitu mereka yang telah mengenal pemerintahan Allah, dan tidak akan ada gereja tanpa Kerajaan Allah; tetapi keduanya tetap merupakan dua konsep yang berbeda, yaitu pemerintahan Allah dan persekutuan.