KOLABORASI ANTARA SEKOLAH, GURU, ORANGTUA, DAN KONSELOR SEKOLAH DALAM UPAYA MEMBANTU ANAK BERKEMBANG SECARA OPTIMAL

Oleh: Juliana Hindradjat, Psik., M.Th

Pendahuluan

Ada tiga jenis pendidikan yang akan dimasuki seorang individu, yaitu pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, dan pendidikan di masyarakat.

Pendidikan orangtua di rumah merupakan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Dalih dan alasan apapun pada dasarnya tidak cukup baik untuk membuat orangtua menyerahkan tanggung jawab mendidik anak kepada pihak lain, termasuk sekolah, apalagi masyarakat. Orangtua yang baik adalah orangtua yang bersedia memikul tanggung jawab penuh dalam upaya mendidik anak.Kegagalan atau keberhasilan anak dipengaruhi oleh seberapa berfungsinya orangtua dalam mendidik anak di rumah. Anak yang baik, yang memiliki moral dan karakter yang sehat, serta dapat mengembangkan diri ke arah yang positif umumnya berasal dari keluarga yang sehat, yang memiliki sistem nilai yang luhur dan tradisi keluarga yang sehat pula. Orangtua perlu mempersiapkan anak dan menyediakan sarana dan prasarana yang baik agar anak dapat bertumbuh menjadi pribadi yang matang, mampu beradaptasi dengan lingkungan, dan dapat memaksimalkan potensi-potensinya dalam upaya mengembangkan diri menjadi manusia seutuhnya, termasuk mempersiapkan anak yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, godaan, bahkan situasi yang terburuk yang mungkin dialaminya di masa yang akan datang.

Kehadiran orangtua di rumah saja pun tidak menjamin baiknya mutu pendidikan di rumah.Penulis telah melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Perhatian Orangtua Terhadap Pendidikan Spiritual dan Karakter Anak dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Spiritual dan Karakter Anak”, dan hasil penelitian ini menunjukkan perlunya upaya yang serius dari orangtua dalam mendidik anak. Orangtua bukan hanya perlu memberi perhatian kepada anak, tapi memberi perhatian dalam upaya mendidik anak. Perhatian saja tanpa upaya mendidik tidak berpengaruh terhadap perkembangan anak. Artinya, perhatian yang diberikan orangtua harus disertai upaya penanaman nilai-nilai yang diharapkan pada akhirnya menjadi nilai anak itu sendiri.

Pendidikan  kedua  yang  dialami anak adalah pendidikan di sekolah.Sekolah adalah rumah kedua bagi anak.Sebagian waktu anak dihabiskan bersama guru dan teman-temannya di sekolah.Sebagian peran orangtua sebagai pendidik dilaksanakan oleh

para pendidik di sekolah.Tanggung jawab sekolah bukan hanya sekedar menyediakan pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan kognitif anak, namun juga kemampuan afektif dan psikomotornya.Oleh sebab itu sekolah perlu mempertimbangkan nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam upaya mendidik anak, nilai-nilai yang idealnya selaras dengan nilai-nilai luhur yang dianut keluarga, sehingga dengan demikian pendidikan yang dilakukan orangtua sejalan dan harmonis dengan pendidikan yang dilakukan di sekolah. Dengan demikian, sekolah berbasis keluarga berperan meneruskan apa yang telah diterima anak di rumah.

Dalam sekolah yang berbasis keluarga, anak dirawat, diperhatikan, dan ditanamkan nilai-nilai yang dapat menolong anak bertumbuh menjadi manusia dewasa yang   baik   dan   berhasil.Sekolah   bukan hanya perlu mempertimbangkan nilai-nilai akademik yang perlu dicapai anak, tapi juga nilai-nilai moral dan karakter anak, bahkan nilai-nilai yang mencerminkan kepribadian suatu bangsa.Sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang mampu mencetak anak- anak yang berprestasi dalam hal akademik, tapi juga anak-anak unggul yang terampil dan berbudi luhur serta berakhlak mulia.

Pendidikan ketiga yang akan dimasuki anak  adalah  pendidikan  dari  lingkungan atau masyarakat. Lingkungan merupakan pendidik yang terkadang tidak nyata aturan maupun wujudnya, namun memiliki dampak yang cukup besar bagi perkembangan anak. Misalnya, lingkungan masyarakat tempat anak tinggal, pergaulan dengan teman, termasuk media massa yang tidak jarang menjadi sarana anak belajar, terlepas dari pengaruhnya yang positif atau negatif.

Orangtua adalah pendidik anak yang utama.Tuntutan orangtua agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik menjadi tidak realistis saat mereka menyerahkan anak mereka untuk dididik oleh sekolah,termasuk dalam hal menanamkan nilai-nilai moral dan karakter, karenapada kenyataannya, sekolah tidak dapat memberikan perhatian penuh hanya  kepada  satu  atau  beberapa  anak saja. Terbatasnya waktu dan perhatian yang dimiliki guru, serta tanggung jawab tugas- tugas akademik dan administratif membuat harapan orangtua terhadap sekolah dalam upaya mendidik anak menjadi sulit untuk direalisasikan dan pada dasarnya memang kurang tepat. Hal ini bertambah sulit saat guru berhadapan dengan siswa yang membutuhkan perhatian khusus, misalnya anak yang sering melanggar tata tertib sekolah atau terlibat kenakalan remaja, mulai dari yang berskala ringan seperti membolos, berbohong, hingga skala berat, misalnya berkelahi, tawuran, menggunakan obat terlarang, terlibat seks bebas, dll. Namun demikian, orangtua tetap menuntut sekolah  untuk  dapat  mendidik  anak dengan baik.Tidak jarang bahkan orangtua mempersalahkan   pihak   sekolah   apabila anak mengalami masalah.

Saat anak bermasalah di sekolah, orangtua    berpendapat    bahwa    sekolah tidak mampu mendidik anak, di pihak lain, sekolah   menganggap   orangtua   kurang

memberi perhatian yang mendidik kepada anaknya.Saling lempar tanggung jawab antara pihak sekolah dan orangtua tidak jarang menimbulkan perselisihan yang tidak berujung pada penyelesaian masalah yang efektif yang pada akhirnya mengorbankan kepentingan anak.

Anak adalah masa depan bangsa. Pendidikan yang tidak tepat atau kurang memadai, baik pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, maupun pendidikan di masyarakat,akan berdampak pada perkembangan anak. Orangtua, sekolah, dan masyarakat perlu berkolaborasi dalam upaya   mendidik   anak.Keselarasan   nilai- nilai yang ditanamkan di antara ketiga jenis pendidikan tersebut merupakan hal penting bagi keberhasilan anak.

Pendidikan   di   rumah,   pendidikan di sekolah, dan pendidikan di masyarakat saling    berkaitan    satu    dengan    yang lain. Dalam upaya memenuhi harapan masyarakat, dalam hal ini orangtua, sekolah sebagai institusi pendidikan mulai bergerak ke arah model layanan penuh (full-service models of service)karena sekolah mulai semakin      mempertimbangkan      dampak dari pengalaman sosial anak, emosi, dan kesehatan fisik dalam perkembangan pendidikan. Hal ini mendorong sekolah mengubah presuposisi mereka mengenai kesulitan-kesulitan alamiah anak dan peran sekolah dalam pertumbuhan anak.

Respon sekolah dan kaum pendidik merefleksikan peralihan dari pandangan bahwa  masalah  anak  bersumber  dari dalam diri individu anak itu sendiri ke arah pandangan bahwa masalah anak adalah, setidaknya sebagian, bersumber dari relasi- relasi sosialnya, misalnya keluarga, dan juga institusi masyarakat lainnya (Terry, 2002; Adelman, 1996; Friesen & Osher, 1996).

Masalah-masalah seperti afiliasi geng, kekerasan, pelecehan, depresi, keterasingan sosial, identitas gender, dan lain-lain, berada di luar fokus akademik dan oleh karena itu sekolah harus menjalin kerjasama dengan sumber-sumber   komunitas   (Terry,   2002; Aguirre, 1995; Dryfoos, 1994).Dan salah satu sumber komunitas yang telah banyak diterima adalah konseling keluarga.

Berbagai artikel dalam konseling individual, psikologi sekolah, pekerjaan sosial,     danliteratur-literatur konseling keluarga, telah memberi gambaran tentang proyek, pendekatan, dan intervensi yang merekomendasikan untuk membawa keluarga (termasuk anak dan orangtua), staff sekolah, dan agen-agen sumber-sumber komunitas lainnya, untuk bekerja bersama- sama dalam upaya mencapai tujuan, yaitu meningkatkan keberhasilan anak di sekolah dan mempromosikan komunikasi orangtua- sekolah yang lebih baik (Terry, 2002; Amatea & Sherrard, 1991; Cowie & Quinn, 1997, dll.).

Bimbingan dan Konseling memiliki peran sebagai penyelenggara pembimbingan baik  kepada  siswa,  kepada  sekolah, maupun   kepada   pihak   di   luar   sekolah yang berkaitan dengan siswa, misalnya, orangtua.Bimbingan dan Konseling dapat turut berperan aktif menjadi mediator antara sekolah dan orangtua demi kepentingan tumbuh kembang anak.

Bagaimanakah  upaya  Bimbingan dan Konseling untuk mempersatukan sekolah dan orangtua sehingga dapat bekerja sama dalam upaya mendidik anak. Bentuk kerja sama seperti apakah yang dapat dilakukan Bimbingan dan Konseling untuk mensinergikan pendidikan keluarga dan   sekolah   dalam   upaya   penanaman nilai bagi anak, sehingga baik orangtua maupun sekolah, tidak lagi bersikap saling bertentangan satu dengan yang lain, tidak saling menyalahkan, melainkan bersama- sama berupaya melakukan perannya masing-masing secara maksimal.

Bagaimanakah Bimbingan dan Konseling dapat membangkitkan kesadaran orangtua mengenai tanggung jawab pendidikan anak, menarik orangtua untuk berpartisipasi aktif dalam program pendidikan sekolah, termasuk penanaman nilai-nilai moral dan karakter, membelajarkan orangtua mengenai mendidik anak secara umum, dan bagi anak bermasalah secara khusus, serta sistem monitoring dan mentoring bersama bagi anak, baik di rumah, maupun di sekolah dan di pihak lain, bagaimanakah peran sekolah dalam menyediakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak sehingga prestasi yang maksimal dapat dicapai oleh anak didik. Bagaimanakah agar sekolah dan orangtua dapat berbagi nilai yang mereka harapkan dimiliki oleh anak, bagaimanakah  agar  sekolah  bersama- sama dengan orangtua mewujudkan suatu generasi yang siap dalam menghadapi tantangan zaman.

Kolaborasi Antara Sekolah, Guru, Orangtua, Dan Konselor Sekolah

Penyelenggara sekolah yang kelebihan beban dan tidak mendapat apresiasi seringkali percaya bahwa akar permasalahan anak adalah akibat kurangnya keterlibatan keluarga dalam hal pendidikan anak-anak mereka (Terry, 2002; California Teachers Association [CTA], 1998; Friesen & Osher, 1996; Power, 1985).

Mereka mengekspresikan rasa keputusasaannya karena hanya segelintir orangtua saja yang memberi respon atas undangan mereka untuk terlibat dalam aktivitas sekolah.Mereka memandang orangtua, khususnya orang kulit hitam dan orangtua berpenghasilan rendah, kurang memiliki keterampilan sebagai orangtua yang baik atau untuk mendukung pertumbuhan pendidikan dan sosial anak-anak mereka (Leler, 1983).

Meski harus dibuktikan lebih lanjut, para penyelenggara sekolah yakin bahwa solusi untuk kebanyakan anak-anak yang gagal adalah kerja sama orangtua dengan permintaan-permintaan sekolah dan menjadi lebih terlibat aktif dalam pendidikan anak- anak mereka dan dalam aktivitas-aktivitas yang disponsori sekolah.

Pada waktu bersamaan, peran dan tanggung jawab keluarga juga mengalami perubahan.Bagi kebanyakan keluarga, harapan suksesnya anak-anak mereka di sekolah dipengaruhi oleh tuntutan ekonomi dan pekerjaan dalam hal waktu dan tenaga dan stresor hubungan keluarga.Keluarga yang kelebihan beban seringkali merasa tidak dihargai dan dikritisi oleh penyelenggara sekolah.Mereka seringkali merasa bahwa jika masalah itu terjadi di sekolah, dan bukan di rumah, maka berarti gurunyalah yang tidak kompeten.Pengalaman rasialisme, etnis, dan perbedaan kelas dan diskriminasi membuat banyak orangtua merasa terintimidasi dan merasa yakin bahwa sekolah lebih tertarik untuk menghilangkan gangguan di kelas dibandingkan membantu si anak.

Orangtua juga mendengar bahwa permintaan sekolah agar mereka terlibat lebih aktif di sekolah itu tanpa mempertimbangkan keterlibatan seperti apakah yang bisa menolong.

Salah satu efek dari meluasnya ekspektasi dan tanggung jawab dari kedua belah pihak, yaitu sekolah dan keluarga, adalah konflik hubungan-peran, dimana keduanya saling bersikap kritis satu sama lain. Masing-masing ingin agar pihak lain bisa lebih bertanggung jawab. Dan tugas konselor sekolah adalah memfasilitasi hubungan keluarga-sekolah yang kritis ini. Memfasilitasi hubungan ini menuntut fasilitas konseptualisasi multisistem dan intervensi. Konselor sekolah perlu membangun kerjasama,  baik  dalam  konteks  sosial yang  lebih  luas  maupun  dengan  makna dan perilaku dari sistem yang unik, seperti yang dimiliki oleh sekolah dan rumah untuk mendukung terjadinya perbaikan dalam hubungan ini.

Tujuan sekolah adalah untuk memastikan bahwa semua siswa dapat belajar pada tingkat tinggi, dan masa depan anak didik tergantung pada keberhasilan sekolah. Kita harus bekerja sama untuk mencapai tujuan itu, karena hal ini tidak mungkin dicapai jika kita bekerja sendiri- sendiri (Dufour, Eaker, & Dufour, 2005, hlm 232-233).

Bentuk kerja sama kolaborasi secara luas diakui sebagai sarana untuk menangani masalah sosial yang kompleks dan untukmencapai tujuan organisasi penting (Gajda, Rebecca, dan Koliba, Christopher, 2007; Austin, 2000; Hesselbein & Whitehead, 2000; Hogue, 1993; Preece, 2004). Oleh karena itu, evaluasi kolaborasiinterpersonal menjadi keharusan bagi semua organisasi yang kompleks, termasuk sekolah (Gajdadan Koliba, 2007; Dufour et al, 2005; Gajda, 2006).

Komunitas    latihan     (communities of practice) merupakan wujud kolaborasi interpersonal   di   mana   setiap   anggota dari suatu sistem pembelajaran sosial berbagi praktek yang umum dan bekerja bersama-sama untuk mencapai hasil  saling menguntungkan yang diinginkan. Praktik multi komunitas ini saling berinteraksi satu sama lain untuk membentuk bangunan intraorganisasional yang paling dasar (Gajda dan Koliba; Peters, 1987).

Melalui   interkoneksi   komunitas. para anggotanya terlibat dalam kolaborasi interpersonal kualitas tinggi sehingga organisasi belajar beradaptasi, bertumbuh, dan berubah dengan sukses. Brown dan Duguid (1995, hal. 65)

Membuktikan bahwa tempat belajar dipahami dalam istilah komunitas yang dibentuk atau digabung dimana identitas pribadi mengalami perubahan. Singkat kata, perbaikan organisasi yang signifikan tidak dapat dicapai oleh satu orang saja, bahkan oleh satu orang yang paling berpengetahuan sekalipun apabila ia hanya bekerja sendiri (Gajda dan Koliba, 2007; Peters & Waterman, 1982).

Dalam bidang sekolah, kolaborasi hampir secara universal dinilai sebagai elemen perubahan sekolah yang penting (Gajda dan Koliba, 2007).

Pembuat kebijakan dan praktisi sekolah   semakin   menyerukan   cara-cara baru dalam merekulturisasi sekolah ke dalam organisasi yang serupa dengan komunitas yang dikarakteristikan dengan adanya norma dan nilai yang dibagi bersama, fokus kepada pembelajaran siswa, dialog yang reflektif, praktek deprivatisasi, dan kolaborasi (Gajda dan Koliba, 2007; Scribner, Minggu Cockrell, Cockrell, dan Valentine,1999).

Asosiasi Kepala Sekolah Dasar Nasional di Amerika (The National Association  of  Elementary  School Principal) (2002) dan Asosiasi Kepala Sekolah Menengah Nasional di Amerika (The National Association of Secondary School Principal, 2004) mendesak para penyelenggara sekolah untuk meningkatkan kemajuan sekolah dan tingkat pencapaian siswa dengan cara mengembangkan kepemimpinan kolaboratif dan komunitas pembelajar yang profesional.

Pengujian efektifitas kolaborasi melalui komunitas pembelajar di sekolah mencakup tiga hal utama, yaitu, pertama, memfasilitasi pengalaman belajar dimana para partisipan hadir dan dapat memahami natur dan karakteristik kolaborasi, kedua, membantu program para pemangku kepentingan dalam mengidentifikasi dan menginventarisir praktek komunitas berbasis sekolah, dan ketiga, mengumpulkan, menganalisa, dan melaporkan data kualitatif dan kuantitatif khusus mengenai perkembangan sekolah (Gajda dan Koliba, 2007; Vermont State Department of Education, 2005).

Literatur-literatur kemajuan sekolah memperlakukan kolaborasi interpersonal seperti sebuah lingkaran inkuiri yang melibatkan dialog kolektif, pengambilan keputusan, tindakan, dan evaluasi yang disingkat dengan DDAE, sebagai komponen utamanya.Hord (2004)

Merujuk komunitas pembelajar professional sebagai komunitas inkuiri yang terus-menerus (hal. 1).

Untitled-1

 

Sumber : Rebecca Gajda & Christopher Koliba, Evaluating the Imperative of   Interorganizational Collaboration, American Journal Evaluation, 2007 28:26, hlm. 30.

Sejak awal tahun 1980-an, ada kecenderungan orangtua dan keluarga semakin dilibatkan dalam sekolah. Para konselor sekolah perlu mempersiapkan diri untuk meresponi tren penting yang sedang berkembang   ini,   yang   akan   berdampak pada   pekerjaan   mereka.   Para   konselor atau psikolog sekolah berada pada posisi yang unik untuk mempromosikan dan memperbesar potensi kemitraan antara sekolah dan rumah.Konselor sekolah berperan dalam menjembatani kolaborasi antara sekolah dan rumah.

Kolaborasi antara rumah dan sekolah adalah sebuah sikap, bukan sekedar aktivitas (Christenson, 1995, hal. 253; Clay, 1999).

Partisipasi orangtua yang bermakna terjadi apabila orangtua dan pendidik dianggap setara, berbagi sasaran sekolah dalam mendukung hasil sekolah bagi siswa (Christenson, 1995; Clay, 1999).

Para  pendidik  semakin  menyadari hubungan yang bersifat kolaboratif ini bagi siswa (Sussell, Carr & Hartman, 1996; Clay, 1999).

Carreiro (1989) mencatat bahwa

Orangtua memiliki keahlian yang berasal dari hubungannya dengan anak sepanjang waktu di rumah. Komponen keahlian     tersebut     meliputi:     obsever anak, pendukung anak, penasihat anak. Sedangkan guru memiliki keahlian dalam bentuk  pengetahuan  dari  kurikulum, strategi-strategi mengajar, pengalaman denganberbagai anak, dan pemahaman tentang perkembangan dan belajar anak. Bersama-sama   mereka   membentuk   tim yang luar biasa. Itulah sebabnya mengapa kolaborasi antar orangtua dan sekolah dan membentuk komunitas pembelajar dengan berbagi nilai menjadi salah satu model konseling yang dapat meningkatkan kinerja sekolah dan membantu anak bertumbuh secara optimal hingga mencapai kematangan sesuai dengan usianya.

Saat orangtua dilibatkan dalam sekolah, maka siswa akan menunjukkan kemajuan dalam hal nilai, sikap dan perilaku, orangtua juga akan mengenali keterampilan interpersonal dan kemampuan mengajar guru-guru, orangtua dapat berkomunikasi lebih baik dengan anak-anaknya baik tentang hal-hal yang umum maupun tentang tugas sekolah yang khusus; komunikasi orangtua dengan guru juga meningkat; dan sekolah dinilai  lebih  efektif (Christenson  &  Cleary, 1990; Clay, 1999).

Bukti-bukti  menunjukkan  kepada para psikolog sekolah bahwa meningkatnya keterlibatan orangtua akan menghasilkan keuntungan yang positif bagi murid, guru, juga orangtua (Clay, 1999).

Ada sejumlah hambatan yang berpotensi memengaruhi kolaborasi yang terjadi antara sekolah dan rumah. Swap (1987, hal. 7) 

Bahkan menyatakan sulitnya membangun kemitraan yang produktif antara rumah dan sekolah. Sikap dan kemampuan orangtua bisa menimbulkan hambatan dalam kolaborasi sekolah-rumah (Fine, 1990;Greenwood & Hickman, 1991; Clay, 1999).

Sebagai contoh, beberapa orangtua berpikir bahwamereka tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan untuk berkontribusi di sekolah. Orangtua yang lain mungkin merasa tidak berdaya untuk memengaruhi sekolah. Beberapa orangtua tidak tertarik, atau mungkin merasa lebih baik ada pemisahan antara rumah dan sekolah. Pengalaman kesulitan di sekolah yang dialami orangtua di masa lalu mungkin masih terbawa hingga kini dan diproyeksikan kepada kesulitan yang dihadapi anak-anak mereka sekarang sehingga   menimbulkan   hambatan   (Fine, 1990; Clay, 1999).

Hambatan lain yang digarisbawahi oleh Greenwood danHickman (1991) adalah masalah kendala pekerjaan, dan fakta bahwa banyakguru dan penyelenggara sekolah tidak tahu bagaimana cara melibatkan orangtua.

Kenyataan bahwa guru dan penyelenggara sekolah terkadang merasa tidak siap untuk melibatkan inisiatif orangtua tidak mengherankan. Kurangnya pelatihan langsung,     kesempatan     bagi    pendidik untuk bekerja sama dengan orangtua dan keluarga merupakan hambatan yang lain lagi (Chavkin & Williams, 1988; Fine, 1990; Clay, 1999).

Ada juga sikap menghambat yang berasal dari sekolah itu sendiri. Beberapa guru dan penyelenggara mungkin tidak benar-benar menginginkan keterlibatan orangtua dalam beberapa kegiatan seperti kegiatan penggalangan dana danacara sekolah. Mereka mungkin menganggap kehadiran orangtua dalam kelas sebagai gangguan(Fine, 1990; Clay, 1999).

Mereka mungkin khawatir kalau gaya mengajar mereka akan diawasi,dan merasa bahwa orangtua tidak dalam posisi yang tepat untuk membuat penilaian.Guru mungkin tidak ingin berurusan dengan masalah keluarga masing-masing maupun dengan masalah perbedaan individual karena dianggap terlalu sulit (Fine, 1990; Clay, 1999).

Mereka juga mungkin merasa bahwa upaya mereka melibatkan orangtua siswa tidak didukungoleh pihak penyelenggara sekolah. Beberapa hambatan praktis yang paling bermasalah adalah terbatasnya waktu untuk  berkomunikasi  (Swap,  1987;  Clay, 1999),

Padahal komunikasi yang efektif adalah dasar utama dalam membangun kemitraan antara sekolah dengan orangtua.

Kepercayaan, rasa hormat, keterbukaan, akan sulit terwujud dalam kondisi krisis, menimbulkan kesempatan untuk menyalahkan pihak lain atau penyangkalan yang mengakibatkan menurunnya tingkat efektifitas resolusi yang diharapkan terjadi (Clay, 1999).

Peran orangtua bergradasi dari pasif ke aktif. Definisi baru dari keterlibatan orangtua di sekolah adalah “melampaui agenda dan prioritas guru dan penyelenggarasekolah kepada prioritas keluarga itu sendiri”, lebih luas dari pandangan tradisional, yang berfokus   pada   “semua   kontribusi   yang dapat diberikan keluarga bagi pendidikan anak-anaknya (Davies, 1991, hal. 378; Clay, 1999).

Epstein (1995) menyebutkan Enam jenis keterlibatan orangtua di sekolah, yaitu: pengasuhan, komunikasi, kesukarelawanan, pembelajaran di rumah, pengambilan keputusan, dan berkolaborasi dengan komunitas (Clay, 1999).

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain: mengadakan kursus pengasuhan, merancang sistem komunikasi rumah-sekolah untuk siswa beresiko tinggi, memfasilitasi  penerjemahan  bahasa  untuk membantu keluarga apabiladibutuhkan, memberikan strategi khusus bagi orangtua untuk meningkatkan kosakata anak di rumah, memberikan informasi kepada orangtua mengenaiprogram pekerjaan rumah yang efektif, pelatihan orangtua dan perwakilan sekolah dalam keterampilan pengambilan keputusan dan membantu sekolah mencari jejaring komunitas dalam memberikan kesempatan mentoring bagi siswa, dan lain- lain.

Kesadaran mengenai potensi dan juga    hambatan    yang    mungkin    terjadi dapat membantu konselor sekolah untuk mulai menyusun upaya mereka dalam menjaringberbagai peluang keterlibatan orangtua. Namun kenyataannya,membangun kolaborasi orangtua dengan sekolah tetap bukanlah perkara yang mudah. Perbedaan lingkungan sekolah, tingkat pendidikan, usia anak, golongan sosial ekonomi, budaya, kebijakan  pemerintah,  kurikulum,  sarana dan prasarana sekolah, kemampuan guru dan orangtua, kesibukan guru dan orangtua, mengakibatkan kolaborasi yang dibangun bisa terhambat meski benefitnya tidak diragukan lagi.

Berbagi nilai dan tujuan bukanlah suatu hal yang mudah mengingat orangtua maupun guru serta para penyelenggara sekolah, termasuk konselor sekolah, berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, adat-istiadat, kebiasaan, pola pengasuhan, yang sangat memungkinkan   terjadinya   perbedaan sudut pandang, visi, nilai-nilai yang dianut, kepribadian, dan lain-lain, yang pada dasarnya memang merupakan keunikan individu masing-masing. Oleh sebab itu kolaborasi yang hendak dibangun dalam kerangka sekolah-rumah perlu memiliki wadah dimana masing-masing pihak perlu dimediasi  dalam  upaya  menyampaikan nilai-nilai    dan    harapan-harapan     yang ingin  dicapai.  Dalam  hal  inilah  konselor perlu mengambil peran sebagai jembatan penghubung antara sekolah dengan rumah. Satu tujuan utama yang membuat wadah ini memungkinkan untuk berjalan dengan baik   adalah   bahwa   sekolah,   orangtua,

 

para penyelenggara sekolah, dan juga konselor sekolah mengharapkan anak-anak yang dipercayakan kepada mereka dapat bertumbuh secara optimal, mengembangkan talenta yang mereka miliki, menolong kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

Apabila tidak ada kesatuan pandangan dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada anak, maka kemungkinan kebehasilan kolaborasi orangtua dan guru akan semakin kecil, karena masing-masing akan berjalan menurut keinginannya sendiri dan tidak memahami pandangan yang lain, yang mungkin saja berbenturan bahkan bertolak belakang, yang dapat menimbulkan kebingungan bagi anak dan pada akhirnya anak tidak memandang penanaman nilai ini sebagai hal yang penting untuk dipelajari. Oleh sebab itu, dalam komunitas pembelajar, para guru, penyelenggara sekolah, orangtua, konselor sekolah, bahkan anak-anak sendiri diberi kesempatan untuk mengungkapkan visi dan tujuan mereka, kendala-kendala apa saja yang mereka hadapi, dan jenis bantuan apa yang mereka harapkan sebagai upaya kolaboratif demi keberhasilan anak.

Apabila  semua  komponen- komponen rumah dan sekolah, setidaknya sebagian besar di antara mereka sudah menangkap tujuan bersama dan sepakat untuk berkolaborasi dalam mencapai hal tersebut, maka optimalisasi perkembangan anak, termasuk penanaman nilai-nilai moral dan karakter, bukanlah suatu hal yang mustahil atau sulit. Tentu saja prosesnya tidak semudah seperti yang dibayangkan. Oleh karena itu, konselor sekolah sebagai penghubung antara sekolah dan rumah harus jeli dalam melihat topik permasalahan yang menarik untuk dibahas dan diatasi, mampu  menyampaikan  masalah  yang dapat membangkitkan semangat untuk berkolaborasi dalam mengatasinya, membentuk suatu format komunikasi yang menarik dan tidak membosankan, tanpa bermaksud menganggap seorangpun lebih rendah  dari  yang  lain,  menyajikan  materi dan informasi yang dapat menarik minat orangtua maupun pihak penyelenggara sekolah   untuk   memperhatikan   masalah tersebut. Ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi inilah salah satu peran yang harus dimainkan konselor sekolah.

Sebagai contoh, bagaimanakah upaya guru dan sekolah dalam mengatasi masalah  tawuran.  Bagaimana  caranya agar tiap komponen sekolah dan rumah dapat ikut berperan serta dalam hal ini. Apakah kebijakan penyelenggara sekolah mendukung dalam mengatasi masalah tawuran, apakah nilai-nilai yang ditanamkan guru di kelas menyentuh masalah tawuran, apakah    orangtua    menanamkan     nilai- nilai yang memungkinkan anak dapat mengambil keputusan yang bijaksana dalam menghadapi masalah tawuran, apakah konselor  sekolah  memberikan  layanan yang optimal khususnya bagi siswa yang berisiko tinggi untuk terlibat tawuran, dan bagaimanakah  dengan  anak-anak  itu sendiri, kendala-kendala pribadi maupun sosial apakah yang memungkinkan mereka terlibat tawuran dan bagaimana mereka dapat mengatasinya.

Dalam komunitas pembelajar ini, setiap  komponen  yang  terlibat  dinilai penting dan memiliki kesetaraan. Tidak ada kompnen  yang  dianggap  tidak  berguna. Tiap komponen bergerak dalam koridornya masing-masing dengan satu tujuan yang sama, bersinergi bersama dimana masing- masing  anggotanya  memahami  upaya yang sedang dilakukan, tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana mereka juga turut berkontribusi dalam mencapai keberhasilan yang diharapkan. Dengan demikian tiap anggota memandang anggota lain sebagai suatu anggota tubuh yang penting, yang masing-masing berfungsi sesuai dengan kapasitasnya, tanpa upaya melanggar kewenangan pihak lain.

Metode Konseling Kolaboratif antara orangtua dan sekolah ini mengasumsikan:

  1. Konflik antara orangtua, sekolah, dan anak tidak lagi merupakan konsekuensi dari kekurangan secara individual, melainkan merupakan deskripsi dan pengalaman historis, kultural, pola keluarga, dan penajaman makna hubungan sekolah-rumah.
  2. Konselor sekolah adalah bagian dari dan ikut berpartisipasi dalam multisistem dari keluarga-sekolah- komunitas.
  3. Perubahan itu bukan sekedar mengenai menyelesaikan masalah tetapi lebih mengenai rekonstruksi deskripsi kehidupan, kemungkinan- kemungkinan, dan tindakan-tindakan, baik dengan anak maupun dengan hubungan keluarga-sekolah.
  4. Meskipun pesan perubahan dalam konflik rumah-sekolah terkadang menyakitkan dan masalahnya tetap ada, umumnya orang lebih mencoba menyelesaikan masalah daripada memperburuk masalah, dengan upaya-upaya mereka.
  5. Model Konseling Kolaborasi Keluarga- Sekolah dalam bentuk komunitas pembelajar mendorong para partisipan untuk memelihara semangat positif dan mengakui keuntungan- keuntungannya.
  6. Baik anak, anggota keluarga, maupun penyelenggara sekolah, seringkali merasa tidak berdaya dalam konflik hubungan ini. Konselor sekolah bekerja menggunakan kekuatan dari masing-masing pihak dan membangun jejaring dukungan. Dalam hal ini konselor sekolah mempersiapkan diri untuk sungguh-sungguh memikirkan perannya sebagai intenvensionis sistem, penasihat, pendidik, dukungan sumber-sumber, dan hubungan- hubungan untuk memperlengkapi orangtua dan juga mendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

DAFTAR RUJUKAN:

Linda L. Terry, Family Counseling in the Schools: A Graduate Course, Sage: The Family Journal 2002 10: 419

Judith A. Nelson, For Parents Only: A Strategic Family Therapy Approach in School Counseling, Sage: The Family Journal 2006 14: 180

Mathew John Paylo, Preparing School Counseling Students to Aid Families: Integrating A Family System Perspectives, Sage: The Family Journal 2011 19: 140

Linda Winshurst dan Alan W. Brue, A Parent’s Guide: Special to Education, NY: AMACOM, 2005

Penelope J. Wald dan Michael S. Castleberry, Educators as Learners, VA: ASCD, 2000.

William H. Quinn, Family Solution for Youth at Risk, NY: Brunner-Routledge, 2004.

Yvonne Bender, The Tactful Teacher, Chicago: Nomad press, 2005. Rebecca Gajda & Christopher Koliba, Evaluating the Imperative of Interorganizational Collaboration,

American Journal Evaluation, 2007 28: 26. Kaia Laidra, Juri Allik, et. all, Aggrement among Adolescents, Parents, and Teachers on Adolescent Personality, Assesment 2006 13: 187.

Susan Graham-Clay, Enhancing Home- School Partnerships: How School Psychologists Can Help, Canadian Journal of Social Psychology 1999 14: 31. Linda Metcalf, The Parent Conference: An Opportunity for Requesting Parental Collaboration, Canadian Journal of Social Psychology 2007 17: 17.

Patricia M. Noonan, Zach A. McCall, et. all, An Analyses of Collaboration in a State-Level Interagency Transition Team, Career Development and Transition for Exceptional Individuals 2012 35: 143.

Curt M. Adams, Patrick B. Forsyth, dan Rozanne M. Mitchell, The Formation of Parent-School Trust : A Multilevel Analysis, Educational Administration Quaterly 2009 45: 4.

Robert J. Starrat, Leading a Community of Learners : Learning to be Moral by Engaging the Morality of Learning, Educational management Administration & Leadership 2007 35: 165.

Andrew Gitlin, Collaboration and Progressive School Reform, Educational Policy 1999 13: 630.

Mavis G. Sanders, Sustaining Programs of School, Family, and Community Partenerships : A Qualitative Longitudinal Study of Two Districks, Educational Policy 2012 26:845.

Lisa A. Ruble dan Nancy J. Dairymple, Compass : A Parent – Teacher Collaborative Model for Student with Autism, Focus Autism Other Dev Diasabl 2002 17: 76.

Jacky Lumby, Parent Voice : Knowledge, Values, and Viewpoint, Improving Schools 2007 10: 220.

Amy Fann, Karen McClafferty, et. all, Parent Involvement in The Collage Planning Process: A Case Study of P-20

Collaboration, Journal of Hispanic Higher Education 2009 8: 374.

Joan M. T. Walker dan Benjamin H. Dotger, Because Wisdom Can’t be Told : Using Comparison of Simulated Parent- Teacher Conference to Assess Teacher Candidates’ Readiness for Family-School Partnership, Journal of Teacher Education 2012 63: 62.

William Wraga, Making Our High Schools Better: How Parents and Teachers Can Work Together, NASSP Bulletin 2002 86:97.

Carol A. Dahir, Joy J. Burnham, et. all, Principles as Partners: Counsellors as Collaborators, NASSP Bulletin 2010 94:

286.

Shannon F. Young, A Multi Paper Dissertation: What School Elements Impact Parental Self-Efficacy, and What are the Implications for School Counsellors, Classroom Teacher and Principals?ProQuest Dissertation and Theses, The Humanities and Social Sciences Collection, 2011.

Mark S. Kiselica dan Joan Pfaller, Helping Teenage Parents: The Independent and Collaborative Roles of Counsellors Educators and School Counsellors, Proquest Research Library, Journal of Counseling and Development : JDC; Sep 1993; 72, 1.

Cynthia Leung, Sandra Tsang, dan Suzanne Dean, Evaluation of a Program to Educate Disadvantage Parents to Enhance Child Learning, Research on Social Work Practice 2010 20: 591.

Mary A. Hoffman dan Robert T. Carter, Counseling Psychology and School Counseling : A Call to Collaboration, The Counseling Psychologist 2004 32: 181.

Laura S. Abrams and Jewelle Taylor Gibbs, Planning for School Change : School-Community Collaboration in a Full-Service Elementary School, Urban Education 2000 35: 79.

Linda Gerena, Parental Voice and Involvement in Cultural Context: Understanding Rationales, Values, and Motivational Construct in a Dual Immersion Setting, Urban Education 2011 46: 342.

Juliana Hindradjat. Tesis: Pengaruh Perhatian Orangtua Terhadap Pendidikan Spiritual dan Pendidikan Karakter Anak dalam Kaitannya dengan Pertumbuhan Spiritual dan Perkembangan Karakter Anak, Bandung: STT Kharisma, 2011