PERSEPSI TENTANG KOMPETENSI DOSEN DAN MINAT BELAJAR MAHASISWA PASCASARJANA STRATUM DUA (S2) STT KHARISMA

Oleh: Ferry Simanjuntak, M.Th

PENDAHULUAN

Sehubungan dengan usaha pemerintah dalam memperbaiki kinerja perguruan tinggi di Indonesia, hal-hal yang harus diperhatikan adalah pengelolaan dan pengembangan sumber daya yang ada, hal tersebut ditujukan agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien di segala bidang. Salah satu sumber daya yang berada dalam ruang lingkup perguruan tinggi yang harus dikelola dan dikembangkan secara berkesinambungan yakni sumber daya manusia (baca: dosen). “Dosen merupakan sumber pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang terakumulasi dalam diri anggota organisasi atau perguruan tinggi”. (www.jakartaconsulting.com. Juni 2012).

Pada perguruan tinggi di Indonesia sering kali kritik dilayangkan kepada bagian pengelolaan dan pengembangan dosen, hal itu disebabkan upaya yang dilakukan bagian pengelolaan dan pengembangan dosen sering dianggap kurang relevan dengan strategi perguruan tinggi untuk survive dan memenangkan kompetisi. Kompetisi yang dimaksud adalah kemampuan perguruan tinggi untuk terus berkembang dan mampu bertahan dalam segala situasi.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh bagian pengelolaan dan pengembangan dosen di perguruan tinggi sering dianggap kurang tepat dengan kebutuhan organisasi, untuk itu dibutuhkan suatu strategi maupun metode yang tepat karena setiap dosen yang berada dalam lingkup perguruan tinggi memiliki kemampuan dan keahlian di bidangnya masing-masing.

Idealnya kemampuan dan keahlian itu harus terus diasah dan dikembangkan oleh perguruan tinggi dari waktu ke waktu, agar dosen sebagai pilar perguruan tinggi selalu memiliki keunggulan kompetitif dan kualitas demi tercapainya tujuan perguruan tinggi. Peningkatan kualitas dosen di perguruan tinggi dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya dengan memberikan program pendidikan dan pelatihan secara berkesinambungan, memperbaiki metode dan strategi pengembangan dosen melalui pemenuhan kompetensi sesuai bidangnya yang dilandasi pengetahuan, keterampilan dan budaya kerja yang positif, atau dengan mengirimkan dosen ke berbagai perguruan tinggi terkemuka baik di dalam maupun di luar negeri untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi maupun untuk mendapatkan keahlian khusus yang diperlukan perguruan tinggi. Untuk itu setiap perguruan tinggi diharapkan mampu memilih cara atau metode yang tepat agar tidak terjadi pemborosan waktu dan biaya.

Dengan demikian dosen yang ada diharapkan mampu berkarya dan selalu siap untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan serta mampu memberikan kontribusi terhadap tercapainya visi, misi dan tujuan perguruan tinggi. Dengan demikian dosen menempati arti yang penting dalam kegiatan operasional sebuah perguruan tinggi. Dosen memiliki fungsi dan tugas pokok sebagai image builder (pembangun citra) dan sebagai jembatan antara perguruan tinggi dengan publik (mahasiswa, karyawan, orang tua, para profesional dan sebagainya).

Selain memiliki tugas dan fungsi pokok tersebut dosen juga dituntut untuk lebih proaktif dan responsif menanggapi dan meluruskan berbagai permasalahan dan isu aktual yang tengah berkembang di masyarakat yang bersentuhan dengan pelaksanaan kebijakan perguruan tinggi, sehingga tidak terjadi distorsi informasi dan komunikasi di masyarakat. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat dapat memahami secara benar dan akurat terhadap kebijakan yang dihasilkan perguruan tinggi tersebut.

KAJIAN TEORI

Peran dan fungsi penting dari dosen di setiap perguruan tinggi menuntut suatu kompetensi. Kompetensi tersebut adalah:
“Karakteristik-karakteristik yang mendasari individu untuk mencapai kinerja superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non rutin”(www. jakartaconsulting.com. Juni 2012).

Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi kompetensi dosen dalam tulisan ini adalah: Kemampuan komunikasi, kemampuan kepemimpinan, kemampuan bergaul atau membina relasi, kepribadian yang utuh atau jujur, dan kaya ide dan kreatif. Kompetensi dosen di atas, idealnya harus dimiliki setiap dosen di perguruan tinggi, karena kompetensi tersebut merupakan standarisasi kualitas untuk dapat menjadi seorang dosen atau pendidik yang berkualitas dan sebagai komunikator yang baik, tapi pada kenyataannya dosen pada lembaga-lembaga pendidikan relatif masih rendah tanggung jawabnya terhadap pewujudan kompetensi pada pelayanan kepada mahasiswa, hal ini diasumsikan karena adanya tujuan-tujuan lain yang dimiliki dosen selain sebagai pengajar.

Selain itu, idealnya seorang dosen juga haruslah memiliki keahlian dalam mengajar, mendidik, melayani setiap pihak yang berkepentingan dengan dirinya terutama mahasiswa. Hal itu bermanfaat untuk membangun, mempertahankan, atau meningkatkan citra dari sebuah perguruan tinggi, sehingga dibutuhkan suatu kesepakatan antara lembaga dengan dosen yang ada mengenai kebutuhan pelayanan.

Munculnya citra negatif dari sebuah lembaga salah satunya dapat disebabkan karena gagal dalam menepati kesepakatan mengenai layanan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Redi Panuju mengenai faktor-faktor yang dapat memunculkan citra negatif sebuah lembaga (tentu termasuk juga di dalamnya adalah perguruan tinggi), seperti: ”

  1. Kegagalan memproduksi barang atau jasa sesuai standard baku yang telah ditetapkan.
  2. Kegagalan memenuhi janji sesuai waktu yang ditetapkan.
  3. Kegagalan memuaskan pengguna jasa sesuai pelayanan yang dijanjikan.
  4. Kegagalan merespon secara cepat dan tepat pengaduan pengguna jasa.
  5. Adanya skandal yang dilakukan secara kolektif maupun individu tetapi management tidak memberi tindakan hukum yang berarti.
  6. Skandal tersebut tersiar kepada publik karena di ekspose media massa.” (Panuju, 2002: 6).

Kompetensi Dosen

Dosen menurut Paulina Pannen adalah: ”Tenaga pendidik pada perguruan tinggi yang khusus diangkat dengan tugas utama mengajar, melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Yang termasuk di dalamnya meliputi: Kemampuan komunikasi, kemampuan manajerial atau- pun kepemimpinan, kemampuan bergaul atau membina relasi, kepribadian yang utuh atau jujur, serta kaya ide dan kreatif“.
Untuk lebih jelas secara rinci akan di jelaskan pada point-point sebagai berikut:

Kemampuan Komunikasi
Kemampuan komunikasi merupakan wujud kemampuan komunikasi dalam berbagai bentuk seperti kemampuan dalam menyampaikan materi, kemampuan dalam membantu mahasiswa menyelesaikan masalahnya, kemampuan dalam memberi motivasi, kemampuan dalam dialog wawancara dengan setiap mahasiswa, ataupun kemampuan komunikasi lisan dengan lawan bicara ataupun bentuk komunikasi lainnya.

Kemampuan Manajerial atau Kepemimpinan

Merupakan wujud tugas sebagai bagian dari perguruan tinggi yang menterjemahkan visi dan misi dari lembaga. Kemampuan kepemimpinan seorang dosen dapat diartikan kemampuan untuk mengatisipasi masalah yang timbul dari dalam dan luar lembaga serta mampu menyusun rencana kegiatan dan melaksanakannya. Dosen sebagai komunikator perlu memiliki jiwa kepemimpinan yang berprinsip, dengan paradigma terobosan pola pikir yang baru.

Kemampuan Bergaul atau Membina relasi

Berarti kemampuan untuk berhubungan dan bekerjasama dengan berbagai macam orang, dan mampu menjaga komunikasi yang baik dengan orang-orang berbeda, termasuk orang- orang yang berbeda tingkatannya. Dalam hal menyelenggarakan hubungan dengan publiknya guna memperoleh dukungan dan disukai publik.

Kepribadian yang Utuh atau Jujur

Seorang dosen harus memiliki kredibilitas yang tinggi, yakni dapat diandalkan dan dapat dipercaya oleh orang lain, dan dapat diterima sebagai orang yang memiliki kepribadian utuh atau jujur. Informasi yang disampaikan oleh seorang dosen mempunyai nilai yang tinggi. Agar dapat memiliki kredibilitas yang tinggi maka setiap dosen harus mengembangkan etika profesi atau bersikap etis.

Kaya Ide dan Kreatif

Dosen juga haruslah seseorang yang penuh dengan gagasan atau ide-ide, mampu memecahkan problem yang dihadapi, mampu menyusun rencana yang orisinal dan dapat mengembangkan imajinasi untuk melahirkan kreativitas-kreativitas kerjanya. Menurut Ardianto “Seorang yang kaya ide dan kreatif dalam wawasan seorang dosen harus memiliki wawasan yang luas, permasalahan yang rumit apa pun bentuknya mengetahui benang merah persoalannya”. (Ardianto,2004).

Sedangkan Kreatifitas dalam wawasan seorang dosen bisa mencakup berbagai kegiatan seperti mengelola berbagai kegiatan akademik, melaksanakan proses belajar mengajar, Melaksanakan penelitian dan pengabdian masyarakat, Menulis buku dan sebagainya.. Semua itu memerlukan pengamatan yang tajam, persepsi yang baik serta pemikiran yang orisinal dan perhatian penuh.

Tinjauan Tentang Mahasiswa

Mahasiswa adalah khalayak yang menjadi peserta dalam proses pendidikan, anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Mahasiswa hendaklah mampu menjelaskan perasaannya kepada dosen. Bila mahasiswa sudah bebas menjelaskan perasaan atau masalah yang dihadapinya, maka selanjutnya adalah tugas dosen membantu mahasiswa untuk mengklarifikasi ungkapan perasaan tersebut. Untuk itulah seorang dosen perlu memiliki kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam merefleksikan perasaan atau masalah mahasiswa, dosen hendaklah memiliki kemampuan agar mahasiswa dapat melihat kembali apa yang dilakukan atau diucapkannya, sehingga mahasiswa melihat sendiri sikap yang ditampilkannya, kebingungannya, atau perasaannya secara akurat.

Tinjauan Tentang Minat Belajar

Pelajaran yang disampaikan oleh dosen akan menjadi lancar apabila peserta didik berminat dengan materi yang diajarkan. Hal tersebut diungkapkan oleh Nasution “Pelajaran berjalan lancar bila ada minat.” (Nasution, 2004: 82).
“Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.” (Syah, 1995: 136). Selain itu “Minat dapat diartikan kecenderungan untuk merasa tertarik atau terdorong untuk memperhatikan seseorang, suatu barang, atau kegiatan dalam bidang-bidang tertentu.” (Loekmono, 1994: 60).

Mahasiswa yang memiliki minat terhadap pelajaran atau materi pembelajaran yang disampaikan oleh dosen, secara tidak langsung akan lebih memperhatikan dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak memiliki minat. Minat merupakan faktor internal maupun eksternal dalam keberhasilah belajar peserta didik, dan memiliki peranan penting dalam proses belajar.
Seperti yang diungkapkan Hutabarat, bahwa: “Jika kita memiliki minat yang kuat untuk mempelajari sesuatu, kita akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh dan kita akan mengerahkan pikiran, tenaga dan waktu untuk mempelajarinya tanpa ada suruhan dan paksaan dari orang lain. Semakin besar minat terhadap sesuatu pelajaran atau bahan bacaan, semakin terdorong kita menguasainya.” (Hutabarat, 1995: 27).

Mahasiswa yang memiliki minat mengikuti perkuliahan akan lebih fokus kepada pengajar dan materi yang disampaikan. “Pandangan matanya yang penuh minat dan sikapnya yang asyik merupakan tanda-tanda perhatian dan minat.” (Gregory, 2008: 35). Selain itu “Ada tidaknya minat terhadap suatu pelajaran dapat dilihat dari cara anak mengikuti pelajaran, lengkap tidaknya catatan, memperhatikan garis miring tidaknya dalam dalam pelajaran itu.” (Ahmadi & Supriono,
83).

Dengan adanya minat maka mahasiswa akan lebih bersemangat mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh dosen. Menurut Gregory “Sumber suatu minat sejati dapat ditemukan dalam hubungan pelajaran dengan sesuatu dimasa lampau si pelajar. Lebih-lebih lagi jika ada hubungan antara pelajaran itu dengan masa depan mereka.” (Gregory,
2008: 48). Mahasiswa dapat belajar melalui pengalamannya dimasa lampau. Karena “Belajar merupakan satu ketrampilan yang kita peroleh (sebagai manusia) melalui pengalaman seperti semua keterampilan lainnya.” (Bachaman, 2005: 23).

Membangkitkan Minat Mahasiswa

Menurut Nasution cara-cara untuk membangkitkan minat peserta didik (tentu termasuk di dalamnya adalah mahasiswa) ada empat yaitu:

“(a) Bangkitkan suatu kebutuhan (kebutuhan untuk menghargai keindahan, untuk mendapat penghargaan, dan sebagainya); (b) Hubungkan dengan pengalaman yang lampau; (c) Beri kesempatan untuk mendapat hasil baik, “Nothing succeed like succes”. Tak ada yang lebih memberi hasil yang baik daripada hasil yang baik. Untuk itu bahan pelajaran disesuaikan dengan kesanggupan individu; (d) Gunakan pelbagai bentuk mengajar seperti diskusi, kerja kelompok, membaca, demonstrasi dan sebagainya.” (Nasution, 82).

Dosen harus mengenali peserta didiknya, agar dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan mahasiswanya dan juga dapat mengetahui sikap mereka masing- masing.

Aunurrahman mengungkapkan, bahwa: “Pengenalan terhadap siswa dalam interaksi belajar mengajar, merupakan faktor yang sangat mendasar dan penting untuk dilakukan oleh guru agar proses pembelajaran yang dilakukan dapat menyentuh kepentingan siswa, minat- minat mereka, kemampuan serta berbagai karakteristik lain yang terdapat pada siswa dan pada akhirnya dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.” (Aunurrahman, 2009:131).

Faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar Mahasiswa

Minat belajar merupakan faktor pendorong yang berasal dari dalam diri seseorang, namun minat dapat dirangsang oleh faktor-faktor yang berasal dari luar diri orang tersebut. Hal-hal yang dapat merangsang minat seseorang untuk belajar adalah lingkungan belajar, bahan pelajaran, fasilitas pembelajaran, interaksi kelas dan motivasi seseorang untuk belajar itu sendiri.

Lingkungan Belajar

Faktor lingkungan sangat mempengaruhi minat belajar mahasiswa, karena ketika lingkungan rapi, bersih, dan nyaman, mengakibatkan mereka lebih bergairah dalam belajar, sedangkan “Suasana yang kacau, ramai, tidak tenang, dan banyak gangguan, sudah tentu tidak menunjang kegiatan belajar yang efektif.” (Hamalik, 2008:52).

Lingkungan belajar merupakan lingkungan dimana peserta didik belajar. Salah satunya adalah lingkungan kelas yang nyaman guna menunjang proses pembelajaran, supaya berjalan dengan baik. Wina Sanjaya mengungkapkan, bahwa:

“Ruang kelas yang terlalu sempit misalnya, akan mempengaruhi kenyamanan siswa dalam belajar. Demikian juga halnya dengan penataan kelas. Kelas yang tidak ditata dengan rapi, tanpa ada gambar yang menyegarkan, ventilasi yang kurang memadai, dan sebagainya akan membuat siswa cepat lelah dan tidak bergairah dalam belajar.” (Sanjaya, 145).

Lingkungan belajar yang nyaman dapat membantu meningkatkan daya tahan mahasiswa dalam belajar atau mengikuti perkuliahan. Lingkungan belajar juga dapat mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa.

“Lingkungan belajar sangat penting pengaruhnya terhadap hasil belajar.” (Hutabarat, 203). Oleh sebab itu “Dalam meningkatkan keberhasilan belajar, lingkungan belajarpun perlu diperhatikan.” (Hutabarat, 211). Karena apabila lingkungan belajar berisik, kotor, bau, dan tidak menimbulkan rasa nyaman, secara otomatis mahasiswa akan merasa jenuh, ngantuk, bosan dan mudah lelah.

Bahan Pelajaran

Faktor bahan pelajaran meliputi bahan pelajaran dan waktu yang digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran. Bahan pelajaran yang terlalu banyak menimbulkan kejenuhan bagi mahasiswa. Dalam buku psikologi belajar Ahmadi dan Supriyono menyatakan, bahwa:

“Kesulitan belajar individu tidak semata-mata karena panjangnya waktu untuk belajar, melainkan lebih berhubungan dengan faktor kelelahan serta kejemuan si pelajar dalam menghadapi atau mengerjakan bahan yang banyak itu.” (Ahmadi dan Spriyono, 139).

Menyampaikan materi kuliah hanya dengan menceramahi mahasiswa dapat menimbulkan kejenuhan. Itu sebabnya materi kuliah perlu dikemas dengan menggunakan metode-metode yang bervariasi karena hal tersebut dapat mengurangi kejenuhan.
Sebagai contoh, dosen dapat mengangkat kasus-kasus yang sedang populer di masyarakat dan dihubungkan dengan materi perkuliahan lalu meminta mahasiswa untuk memberi pendapat tentang kasus tersebut. Dalam hal ini, kasus tersebut dapat merangsang mahasiswa untuk berpikir, bahkan tidak jarang terjadi perdebatan atau perbedaan pendapat antara mahasiswa satu dengan yang lain sehingga dinamika kelas terjadi.

Fasilitas Pembelajaran

Fasilitas pembelajaran termasuk salah satu faktor yang mempengaruhi minat belajar mahasiswa. Fasilitas yang lengkap dalam perguruan tinggi adalah sebuah keharusan. Hal ini diungkapkan oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, bahwa “Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah.” (Djamarah dan Zain, 164).

Apabila fasilitas yang dibutuhkan mahasiswa untuk belajar tersedia maka prestasi belajar mereka dapat meningkat. Sebab “Kelengkapan fasilitas belajar memberi pengaruh yang berarti terhadap prestasi belajar peserta didik.” (Danim, 2008:
73).

Mengapa prestasi dapat meningkat dengan adanya fasilitas? Karena fasilitas yang ada dapat digunakan sebagai sumber belajar untuk mempermudah mahasiswa dalam belajar. “Adapun sumber belajar itu meliputi pesan (message), orang (people), bahan (materials/software), alat (devices/hardware), teknik (technique), dan lingkungan (setting). ” (Warsita, 209).

Fasilitas internet di kampus dapat membantu mahasiswa untuk mencari informasi atau dapat digunakan sebagai sumber belajar. Fasilitas dapat berupa buku-buku di perpustakaan, komputer untuk mengerjakan tugas, maupun alat-alat peraga.

Interaksi Kelas

Hubungan antara dosen dengan mahasiswa berpengaruh juga terhadap kelancaran proses belajar mengajar. “Guru yang tidak dapat berinteraksi dengan baik dan akrab dengan siswa menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar.” (Sutikno, 23).
Setiap metode dalam pembelajaran memerlukan interaksi kelas yang baik. Dosen seharusnya dapat menguasai suasana dan menciptakan interaksi kelas yang baik. Umumnya suasana dan interaksi yang kondusif terjadi dimulai dari kesan pertama saat perkuliahan itu dimulai sebagaimana diungkapkan oleh Sardiman A.M, bahwa:

“Banyak orang beranggapan bahwa kesan pertama dari suatu bentuk hubungan merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan yang dinginkan. Dengan kata lain, bahwa kesan pertama yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula.” (Sudirman, 211-212).

Sobry Sutikno menuliskan, bahwa “Keterampilan membuka dan menutup pelajaran sangat diperlukan oleh guru, karena keterampilan tersebut berkaitan langsung dengan ketercapaian tujuan pada saat penyampaian materi pembelajaran.”(Sutikno, 60).

Melalui interaksi kelas yang baik diharapkan mahasiswa dapat memberikan perhatian terhadap materi perkuliahan disampaikan. Interaksi dapat diciptakan melalui kegiatan tanya jawab atau diskusi. Semakin aktifnya mahasiswa adalah bukti bahwa interaksi di dalam kelas terjadi dengan baik. Walaupun memang bukan hanya dosen yang dapat menciptakan interaksi kelas yang baik, namun dosen berperan sebagai perangsang interaksi tersebut untuk tercipta dengan mengawali perkuliahan dengan cara-cara yang menarik.

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis membuat hipotesis penelitian sebagai berikut: terdapat hubungan antara persepsi mahasiswa tentang kompetensi dosen dengan minat mengikuti perkuliahan di STT Kharisma Bandung.

Atau

Ho: tidak terdapat hubungan antara persepsi mahasiswa tentang kualitas dosen dengan minat untuk mengikuti perkuliahan
Ha: terdapat hubungan antara persepsi mahasiswa tentang kualitas dosen dengan minat untuk mengikuti perkuliahan

Pembahasan Penelitian

Selanjutnya penulis menyebarkan angket kepada 10 orang mahasiswa program studi pascasarjana stratum dua di STT Kharisma untuk melihat apakah ada hubungan antara persepsi mahasiswa tentang kompetensi dosen dengan minat untuk mengikuti perkuliahan.

Angket yang disebarkan adalah sebagai berikut:

Angket kesatu adalah angket untuk menilai persepsi mahasiswa tentang kompetensi dosen.
Berilah ranking 1-10 tentang kompetensi dosen berikut ini:

tabel 1

 

Angket kedua adalah angket untuk menilai minat mahasiswa terhadap perkuliahan.
Berilah rangking 1-10 tentang minat
Anda untuk mengikuti mata kuliah berikut ini:

tabel 2

 

Angket yang telah diisi oleh mahasiswa kemudian diolah dengan hasil sebagai berikut:
Distribusi mengenai persepsi mahasiswa tentang kompetensi dosen:

tabel 3

Distribusi mengenai minat mahasiswa mengikuti perkuliahan

tabel 4

Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Rank Spearman:

 

tabel 5

Untuk menginterpretasikan angka tersebut, maka dibandingkan dengan nilai- nilai rho dalam tabel. Dari tabel terlihat bahwa n=10 untuk, pada taraf kesalahan 5% diperoleh harga 0,648. Hasil rho hitung ternyata lebih kecil dari rho tabel. Hal ini berarti Ho diterima dan Ha ditolak.

Berarti dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara persepsi mahasiswa terhadap kompetensi dosen dengan minat untuk mengikuti perkuliahan di program pascasarjana stratum dua STT Kharisma.

Hal ini kemungkinan disebabkan sistem perkuliahan di program pascasarjana stratum dua STT Kharisma dilakukan dengan cara paket atau tidak adanya mata kuliah pilihan yang disediakan setiap perkuliahannya. Dengan adanya mata kuliah pilihan yang diberikan setiap perkuliahannya, memberikan kemungkinan bagi mahasiswa untuk mengikuti perkulihan sesuai dengan pilihan minat dan persepsi mereka terhadap kompetensi dosen yang mengampunya.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ahmadi dan Supriyono, Psikologi Belajar.
Ardianto, Elvinarso. Public Relations Suatu Pendekatan Praktis, Kiat Menjadi Komunikator dalam Berhubungan dengan Publik dan Masyarakat. Bandung, Pustaka Bani Quraisy, 2004.
Aunurrahman. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, 2009.
Bachaman, Edmund. Berpikir Kritis dan Inovatif. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2005.
Danim, Sudarwan. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Djamarah dan Zain, Strategi.

Gregory, John Milton. Tujuh Hukum Mengajar. Malang: Gandum Mas, 2008.
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008.
Hutabarat, E.P. Cara Belajar. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995.
Loekmono, J.T.Lobby. Belajar Bagaimana Belajar. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994.
Nasution,S. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Panuju, Redi. Krisis Public Relations, Wawasan Memahami Macam Krisis Menuju Organisasi yang Sehat, Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset. 2002.
Sanjaya. Strategi Pembelajaran.

Sardiman A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Sutikno, Belajar dan Pembelajaran.

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Rosda Group, 1995.
Warsita, Bambang. Teknologi Pembelajaran.
www.jakartaconsulting.com/extra_corner_archive12.shtml, Juni 2012.